The Art of Motorcycle

Sebuah copas artikel sangat menarik dari sebuah pagelaran seni kontemporer yg akan digelar di Taman Budaya Yogyakarta, 18 Agustus 2011, dgn kuratorial oleh Nur Kholis (alm), seorang pecinta motor antik yg telah ngegas ke alam baru, mendahului kita. RIP brotha!

 

1.Otomotif dan Gerakan Seni Rupa
Persentuhan antara seni rupa dan otomotif – sesungguhnya telah lama terjadi. Di beberapa negara maju, terutama Amerika dan Inggris, dunia custom, sejak era 40-an hingga 70-an telah menjadi bagian dari perkembangan seni dan budaya massa, bahkan menjadi salah satu penyokong lahirnya gerakan seni rupa LOWBROW ART ( di LA, California pada akhir 70-an), sebagai antitesa atas kesenian yg dianggap mapan, karena diakomodir oleh dunia akademis, lembaga/institusi seni, media serta pasar.

 

Gerakan LOWBROW ART berusaha menyajikan karya-karya alternatif diluar jangkauan mainstream seni rupa, meliputi segala genre seni visual underground, modifikasi/ custom, hot rod, t-shirt, tattoo, punk, aksesories, object, street art, mainan/toys, bahkan musik, humor dan film underground.

 

Secara bersamaan, ditopang pula oleh munculnya gerakan etik DIY Culture ( Do It Yourself; Terutama di Inggris dan Amerika ), sebuah gerakan kolaboratif antara seniman dan masyarakat luas di dalam menentang ketergantungan terhadap produk, industri, konsumerism, kemapanan teori, dan sumber referensi. Gerakan Do it Yourself memberikan motifasi akan kemampuan skill seseorang melakukan apa saja sebagai bentuk kreatifitas, mempublikasikannya dan mempromosikannya sendiri, tanpa harus tergantung pihak lain.

 

Terminologi yang ditawarkan sangat jelas: “doing anything at all, including your own version of whatever you think is missing in mainstream culture”, intinya bahwa setiap individu memiliki potensi menjadi kreator/ pencipta dengan caranya masing-masing.

 

Gerakan ini salah satunya telah melahirkan Motorcycle Artist, yaitu munculnya para seniman dan kreator yang pada akhirnya memberikan pengaruh besar pada perkembangan custom hingga saat ini. Sebagai sebuah gerakan budaya ( kendatipun jarang terekspose di dunia seni mainstream), Lowbrow Art dan DIY Culture sangat efektif, bahkan berkembang hingga sekarang, merambah jaringan internet. Contoh konkrit adalah hadirnya jejaring sosial seperti: Newgrounds, DeviantArt, Facebook, Instructable dan Youtube. Situs-situs ini sangat memungkinkan seseorang mengaktualisasikan diri, mengupload hasil kreatifitas apa saja, promosi, berbagi, dan publiksai secara bebas.

 

Tak jarang kita dikejutkan hadirnya nama –nama yang tadinya “bukan siapa-siapa” mendadak terkenal setelah video diunggah ke Youtube, semisal; Keong Racun/ Shinta dan Jojo, Justin Beiber, juga builder dan seniman ( pematung ) asal Jepang Shinya Kimura dengan karya dan konsep customnya Zero Design yang fenomenal.

 

Di dunia otomotif dan custom, kesenimanan ini muncul sebagai manifestasi konkrit atas kuatnya pengaruh Lowbrow Art dan DIY Culture di samping dari proses panjang persilangan kreatif antara mereka, para biker, yg memang berlatar belakang seni, seperti: David Mann (pelukis), Kenny Robert Howard aka Von Dutch (seniman Pop), John Eric Franzen ( profesor seni, anggota Hell Angel), Ed Roth aka Big Daddy (seniman, kartunis, pencipta istilah Hot Rod; custom car), Dave Perewitz ( pegrafis), David La Brava ( seniman tattoo, aktor, penulis, anggota Hell Angel), dan mereka yang berasal dari profesi lain namun memiliki sense of art yang tinggi, seperti: Larry Desmed aka Indian Larry ( mekanik, stuntman, mantan perampok bank ), Arlen Ness (engineer), Dean Jeffries (stuntman, tv programmer), Billy Lane (mekanik), Cliff Vaughs dan Ben Hardy. Dan masih banyak lagi nama-nama yg bisa disebut sebagai Motorcycle Artist dalam beberapa disiplin dan spesialisasi, dari Pinstriper, painter, engraver, customizer, builder dan designer.

 

Sesungguhnya Lowbrow Art adalah perkembangan puncak dari sebuah gerakan seni yang dipelopori oleh “Big Daddy” Ed Roth dengan gerakan “Kustom Kulture”nya bersama dengan Kenny Howard “Von Dutch”, Dean Jeffries, George Barris, Indian Larry dan beberapa seniman non biker lainnya di California pada th 60an. Kustom Kulture telah menjadi neologism, yaitu sebuah terminologi baru atas munculnya fenomena seni visual yang dianggap belum berlaku di dunia seni secara umum, atau diterima oleh mainstream seni rupa.

 

Kata Kustom Kulture telah menjadi penanda bagi identifikasi karya seni yang ada kaitannya dengan dunia biker (pecinta motor), otomotif dan custom (meliputi; motor, mobil, fashion, merchandise, tattoo, hairstyle, lukisan, komik, kartun, dan karya underground lainnya dari musik, film, tipografi, dsb.), sebuah usaha riil yang layak dihargai sebagai counterculture atas kekuasaan seni mainstream.

 

 

2.Konsepsi dan perkembangan Custom

Tradisi custom diawali dari kembalinya para veteran PD II, ke Amerika. Mereka mencari kesibukan baru sebagai alternatif pekerjaan dan hiburan karena nasib mereka tidak banyak terakomodir oleh sistem dan lapangan kerja.

 

Terinspirasi oleh motor buatan eropa yang lebih praktis dan ringan yang pernah dikendarai semasa PD II, mereka memodifikasi motor buatan Amerika ( HD, Indian ) dengan memangkas part yang kurang diperlukan, mejadikan lebih simple dan ringan dengan melakukan “bobbing”/ meminimalisir ukuran fender belakang, atau menghilangkan fender depan. Kebiasaan mem”bobbing” ini kemudian memunculkan genre Bobber. Di masa awal ( 50an), Bobber cenderung mempertahankan frame pabrikan. Aplikasi pinstriping, desain yang rendah dan lebih ramping dibanding motor aslinya, menunjukkan pengaruh Art Deco yang memang akrab dengan mereka di tahun 30an.

 

Chopper adalah genre kedua yang muncul, sebagai medium ekspresi yang lebih bebas, dengan melakukan modifikasi lebih radikal. Melakukan “chopping”/ pemotongan, mendesain ulang, menghasilkan tampilan tunggangan yang lebih otentik. Sejak awal chopper lebih akomodatif terhadap material baik itu dari motor pabrikan atau motor yang dipungut dari rongsokan sebagai bahan baku/ material. Kendati kaidah bobber masih dipakai, satu ciri yang paling mencolok pada chopper adalah perubahan panjang frame, rigid ( tanpa suspensi belakang) dan stretching pada bagian front end ( Rake), serta penggunaan fork depan yang lebih panjang. Aspek redesign juga nampak mencolok pada varian gas tank serta varian handlebar.

 

Selain menghasilkan penampilan tunggangan yg berkarakter freedom, dan “bumpy”/ seksi, design chopper memberikan sensasi handling yang menantang, sekaligus kenyamanan pada kecepatan tinggi di jalanan lurus. Pengaruh art deco masih sangat kental pada design, pinstriping, graphic yang acapkali pula dikombinasi dengan unsur art nouveau untuk memberi kesan klasik namun berjiwa muda.

 

Perkembangan chopper dan bobber menjadi kian pesat dan mendunia, pasca gerakan Kustom Kulture, Lowbrow Art, dan DIY Culture, ditunjang dengan pengaruh film box office Holliwood tahun 1969: “Easy Rider” yang dibintangi oleh Peter Fonda, Dennys Hopper dan Terry Southern, dengan menampilkan chopper legendaris “Captain America”, karya duo seniman dan builder Cliff Vaughs dan Ben Hardy. Chopper segera menjadi ikon anak muda, sebagai simbol semangat, kebebasan, dan pemberontakan.

 

Di antara dua genre di atas, muncul pula Ratbike, istilah yang menandai kultur jalanan, yang ditunjukkan dengan motor-motor kurang terawat dan dekil karena lebih banyak menghabiskan waktu di jalan. Sebuah ode atas perjalanan, petualangan dan pengembaraan, di mana motor dipenuhi dengan benda-benda memorabilia/ kisah sepanjang perjalanan dan waktu.

 

Term awal Ratbike diduga juga muncul sebagai penghargaan para biker atas peran para veteran PD II, sebagai pelopor di dunia per-biker-an. Di tahun 80an, muncul istilah Survivalbike, motor yang sengaja dicustom ala ratbike sebagai bentuk estetika dan life style.

 

Seiring dengan semangat muda, di Inggris muncul varian custom Cafe Racer (terutama dengan motor Triumph), dimodifikasi khusus sebagai jawaban atas pengaruh musik Rock n Roll di era 60an. Varian ini sangat berpengaruh di Eropa, terutama di Jerman dan Itali (Ducati). Terma Cafe Racer, mengindikasikan sebuah design motor dengan simplisitas, ringan, sporty, gaul dan lincah untuk track pendek namun cepat. Design custom yang agak tinggi (dibanding bobber) dengan swing arm dan shock breaker belakang, sangat sesuai dengan medan jalan di Eropa, sehingga sangat fungsional dengan kebutuhan anak muda di dalam memburu hiburan dari satu cafe ke cafe lainnya sebagai bagian dari life style pada masa itu.

 

Mereka menyebut diri mereka dengan Rockers, sebagai bentuk pemberontakan atas sistem. Sebagai bagian dari ekspresi, mereka sering mengadakan race di antara dua cafe/ bar, memburu kecepatan sebelum musik dimainkan. Genre musik Rockabilly (awal dari Rock n Roll), yang masih mengandung unsur country, western swing, boogie woogie, dan rhytm and blues menjadi jiwa dari Cafe Racer.

 

Belakangan, sejak pertengahan 70an, Cafe Racer dalam aplikasinya pada motor pabrikan Jepang, mendapat sebutan baru sebagai Jap style. Sebuah terminologi yang mengindikasikan kekompakan antara simplisitas design modifikasi dengan kerapian dan teknologi otomotif yang lebih praktis sebagai ciri keunggulan mesin buatan Jepang. Ramuan antara nilai praktis, kecepatan, kerapian, simplisitas, sporty, ringan, gaul dan bersahabat, ditambah lagi dengan harga motor yang terjangkau, menjadikan Jap Style sangat populer di kalangan anak muda sejak awal 80an. Varian ini menjadi fenomena di jalanan karena populasi dan fleksibilitasnya sebagai real street bike.

 

Karakter praktis dan bersahabat seringkali menggantikan istilah Jap Style dengan istilah yang berkembang di Eropa; Brat Style (diangkat dari bahasa Slavia: Brat yang berarti sahabat). Terlebih Jap style memiliki keluwesan pada ranah custom dari cc kecil (kelas underbone) hingga cc besar (sekelas superbike).

 

Varian lainpun muncul dengan tampilan yang lebih macho dan sporty; melakukan clone character antara street bike dan trial, hingga melahirkan kesan baru; terrain motorcycle: Scrambler. Sebuah type turunan modifikasi street bike dengan kemampuan manuver di medan cross country. Ciri mencoloknya adalah aplikasi ban trial di kedua roda dan knalpot yang didesain tinggi jauh dari permukaan tanah.

Salah satu imbas balik dari menggejalanya demam anak muda di dalam menemukan karakter di dunia custom, pabrikanpun melirik kharisma Jap Style / Brat Style (yang memang memiliki performa sebagai street bike) menjadi inspirasi diproduksi dan dilaunchingnya serial komoditas sportbike ke pasaran. Tidak hanya dilakukan oleh pabrikan Jepang dan Italy yang memang terkenal dengan produk dan laga di sirkuit balap dan drag race, namun juga diproduksi oleh pabrikan Inggris (dengan Triumph Bonneville) dan Amerika (dengan HD Buell, walaupun type street bike standard tetap diproduksi semisal Sportster dan Roadster), Jerman (dengan BMW, yang rata berdesign sport sejak pertengahan 70an). Di sisi lain perkembangan pop art, yang diwakili oleh komik modern/ kontemporer, semakin menginspirasi hadirnya gaya custom terkini; Streetfighter.

 

Streetfighter, sebagai genre custom paling muda, adalah jawaban balik atas dipasarkannya Sportbike oleh pabrikan. Secara sederhana Streetfighter dapat dikatakan sebagai sportbike yang didesign ulang dengan melepas, menambah atau mengganti fairing ( komponen pendukung pada aspek aerodynamic dan hydrodynamic), serta perombakan mesin, guna menambah performa tunggangan dan lebih mencitrakan karakter agressive, exelence dan attractive. Aplikasi grafik, pinstriping, fairing geometris, serta garis tegas bodywork yang cenderung tajam menjadi ciri utamanya. Streetfighter merupakan inspirasi dari komik “Ogri” (Protagonis berkarakter Rocker biker, yang mengendarai “Armageddon”, motor custom canggih berkapasitas 1000cc, yang disebutnya sebagai Norvin; perpaduan dari Norton dan Vincent Black Shadow. Ogri juga digambarkan bereksperimen dengan motor lain (seperti Kawasaki dan BMW dengan sidecar/ sispan lengkap dengan supercharger dan turbojet) karya ilustrator Inggris Paul Sample, yang dirilis pada majalah custom bike Back Street Heroes, sejak tahun 70an hingga 80an. Komik ini dilanjutkan dengan serial baru Bloodrunner karya seniman Andy Sparrow, dengan tokoh protagonisnya mengendarai motor Jepang custom, dengan mesin 4 cylinder inline.

 

Karya custom Streetfighter pertama di Inggris diwujudkan oleh aktor Huggy Leaver dengan Harley Davidson Sportster sebagai bahan bakunya, kemudian motor buatan Jepang berkapasitas 4 cylinder, yang keduanya didesign langsung oleh Andy Sparrow, sebagai perwujudan imajinasi di dalam komiknya.

 

Eksotisme Streetfighter custom, secara timbal balik menginspirasi dan diinspirasi oleh lahirnya film bergenre fiksi ilmiah, yg tidak jarang pula diadopsi dari komik lain semisal film Superhero, Mad Max, Ultra Violet, The Blade, serta Transformers (Design custom “Three components of Arcee” garapan William Kenefick). Pengaruh berikutnya adalah lahirnya game bertema warrior dengan pertarungan ala streetfighter.

 

Yang tidak kalah menarik bahwa custom streetfighter dan street bike lebih lanjut dapat dibaca sebagai pengaruh real atas fenomena budaya steampunk, sebuah sub genre dari science fiction maupun speculative viction yang muncul tahun 80 – 90an. Steampunk adalah sebutan bagi komposisi absurd dunia sience fiction antara teknologi klasik- bahkan kuno, yang dipadu dengan aspek fantasi yang serba maju, hitech dan cybertech. Steampunk bisa juga dianalogikan sebagai bentuk anacronisme futuristik antara teknologi/ sains, sejarah, fiksi dan waktu. Suatu kerancuan antara steam/ mesin uap dan punk representasi dari contemporary life style.

 

Custom sebagai bagian dari perkembangan seni rupa secara umum terwakili oleh keyword; ‘”beautifully crafted pieces of metallurgical art,” menunjukkan keterkaitan yang intens antara kreator, bahan baku (material) serta skill (meliputi penguasaan design, konsep, mekanika, dan craftmanship) di dalam melahirkan karya yang berkarakter, bercitra personal (pribadi), dan menjadi medium ekspresi. Sebagai sebuah proses kreatif, dunia custom dengan memilih bahan baku produk jadi (dlm hal ini: sepeda motor) adalah sebuah keputusan yg ternyata tidak sesederhana definisi “custom” itu sendiri. Proses kreatif ini seolah melakukan ‘de-konstruksi’ ataupun sekaligus ‘re-konstruksi’, dengan melakukan redesign atas produk jadi yg sesungguhnya telah siap pakai. Namun demikian, redesign tetap harus mempertimbangkan aspek fungsi, engineering, serta estetika dalam satu kesatuan metallurgical art.

 

Semenjak Para Maestro seperti Arlen Ness, Indian Larry, David Mann, Big Deddy Ed Roth, Von Dutch, Chicano Roy (inventor pop off gas tank), dan beberapa pioneer lainnya memberikan ‘Pelajaran’ berharganya selama kurang lebih 3 dekade, kini tampil para builder muda yang telah melahirkan karya-karya fenomenal dengan pendekatan yang lebih mengejutkan antara konsepsi old school (retro, mengambil referensi design klasik), new school (futuristik, imajinatif), bahkan konsepsi baru dalam semangat free style, sebagaimana karya Jesse James (aktor, celebrity, builder), Jerry Covington (mekanik), Vincent DiMartino (Designer), Roger Goldammer (Engineer, builder), Shinya Kimura dan Chicara Nagata (keduanya Seniman, builder). Bahkan inovasi dan penemuan baru di bidang otomotif dan industri seni custom telah lahir semenjak tahun 70an, meliputi aspek mesin, frame dan assesori serta spare part kendaraan (after market industry). Contoh fenomenal, paling radikal sekaligus futuristis adalah penemuan Monocycle (motor custom dengan sistem satu roda) oleh Kerry McLean (Engineer) sejak tahun 1971, dan di tahun 2009, dia melakukan langkah radikal dengan super monowheel menggunakan mesin Buick V8 berkapasitas 4000cc, dengan sistem double frame rotation berdiameter besar, melingkar, sekaligus merangkap roda sehingga tangki, mesin, sistem kemudi dan pengendara berada di dalamnya.

 

3.Custom dan Statement of Art

Tak bisa dipungkiri, hadirnya builder dari Kanada dan kawasan Asia dalam dasawarsa terakhir ini, justru semakin memperkaya khasanah dunia custom, baik secara konsep dan teknis/ design. Pendekatan estetis yang lebih besar menunjukkan kecenderungan custom sebagai statement of art lebih terasa daripada dasawarsa sebelumnya.

 

Pada Roger Goldammer ( Kanada), kendati karyanya beranjak dari retro boardtrack racer, namun secara visual tampil sangat futuristis dengan inovasi kreatifnya; tanki bensin yang menyatu dengan frame, dan suspensi belakang yang tersembunyi.

 

Pada karya Shinya Kimura ( Jepang ) dengan konsep customnya Zero Design , sangat dipengaruhi oleh filosofi “wabi sabi”, yaitu estetika tradisional di dalam memahami keindahan material mentah sebagai unsur utama ballance pada setiap karyanya. Filosofi ini mengacu pada “Rock Garden”, sebuah taman Batu kuno di salah satu Kuil tua di Kyoto. Karyanya menjadi fenomenal sejak awal 90an, dengan design radikal, minimalistik, vintage looking, namun elegan dan berkarakter kokoh serta natural. Sebagai funtional art/ functional sculpture, dia sangat memperhatikan aspek bentuk dan fungsi, dalam balutan konsep zero design yang seolah-olah menisbikan kaidah otomotif. Ciri mencolok inovasi kreatifnya terletak pada design khas leher angsa ( gooseneck) kemudi. Yaitu perpaduan kemiringan leher kemudi antara bobber dan chopper.

 

Sejak 2008, muncul builder Jepang lainnya yang juga berlatar belakang seniman (pematung), Chicara Nagata. Konsepsi karyanya berawal dari hal sederhana, yaitu persoalan jalan-jalan yang dinyatakan sebagai Traveling Art. Aspek design dan traveling baginya harus terfokus pada tujuan utama, yaitu mendapatkan pengalaman estetis. Traveling art adalah perkawinan harmonis antara keindahan dan fungsi. Konsep ini sangat bertipologi seniman, karena estetika menjadi tujuan utamanya.

 

Kendati berbasis pada Cafe Racer sebagaimana kritik beberapa pakar, namun secara keseluruhan dia menolak penilaian atas karyanya sebagai varian dari langgam Old School ( retro) maupun New School ( futuristik). Dia menyatakan customnya sebagai murni karya seni, complitely original, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Inovasi segarnya terletak pada sistem suspensi depan, yang menjuxtapose girder fork klasik, di mana suspensi justru diletakkan di belakang leher kemudi. Tentu, inovasi ini harus dibarengi dengan kemampuan dan ketepatan dalam menghitung momen dan gaya berat motor pada leher, terutama dalam kecepatan tinggi. Inovasi lainnya adalah komposisi struktur line frame yang luwes, meminimalisir kesan sudut, dan posisi gearbox yang diangkat ke atas sebagai komposisi balans terhadap mesin.

 

Baginya identitas personal sangat penting di tengah perkembangan seni budaya yang cenderung mengglobal tanpa identitas yang jelas. Kenyataannya keseluruhan karyanya dalam seri Liquid Chrome dalam pameran tunggalnya di Ippodo Gallery, dan Contemporary Asian Art Fair, memang telah menyihir dan memukau dunia custom Internasional dan seni rupa kontemporer Jepang. Karyanya menjadi bagian dari perkembangan New Media Art.

 

Sementara, salah satu dari sekian banyak builder Indonesia asal Jogyakarta, Lulut “LT” Wahyudi dengan karya customnya “Kyai Prakosa” telah berhasil menyedot perhatian pengunjung dan menyandang penghargaan Best People Choice pada kompetisi custom Internasional Cool Breaker di Jepang tahun 2010. Salah satu inovasinya adalah aplikasi bronz coating pada metal dan grafis dengan muatan filosofis motif batik Keraton Yogyakarta yang dikomposisikan dengan engraving pada blok mesin meminjam inspirasi dari relief Candi Prambanan. Menyandingkan aspek lokalitas sebagai bentuk revitalisasi nilai tradisi dalam seni custom ternyata mampu menghadirkan kemungkinan baru.

 

Dominasi genre dan style custom Internasional kini seolah “ditawar” dengan munculnya genre baru dalam semangat free style. Contoh paling kongkrit adalah perkembangan seni Custom Jepang kontemporer, yang ditunjukkan dengan sekian banyak kontes dan pameran custom dalam skala nasional maupun internasional. Jap Style telah berevolusi menjadi Hidemo Style, yaitu persilangan genre custom, aplikasi techno, grafis dan design yang berusaha menyembunyikan karakter dan merk motor semula. Alhasil, citra ekspresi individual semakin mengemuka sebagai statement of art.

 

Keunggulan lain custom Jepang adalah hadirnya builder-builder seperti Keiichi Terada dari Sigma Spyder Osaka, yang banyak menggarap motor jenis skutic, terutama big scooter berkapasitas 250cc di samping kelas bebek dan sportbike. Uniknya, dunia custom skutic dan bebek ini sangat diwarnai oleh tren Mode Harajuku, dan dunia anime, dengan ciri yang sama, simple, elegan, futuristik, fancy, cool dibarengi aplikasi grafis serta warna candy tone.

 

Kesan mewah dibangun dengan aksen chrome, terutama pada gaya knalpot dual pipe dan asesori penunjang dashboard. Selain itu, modifikasi teknologi mesin ramah lingkungan berbahan bakar alternatif dan baterai mulai dieksplorasi, dipadu dengan unsur hitech; GPS, PDA, MP3, lampu LED dan aplikasi kunci kontak USB. Kesan elegan dan futuristik dibangun dengan kerapian modifikasi fairing sekujur body dan dashboard yang sangat aerodinamis, dengan tampilan visual rata-rata bergaya low rider ( ceper ), limo, bahkan ekstrem dengan aplikasi ban type touring, white wall atau sport.

 

Tak pelak lagi perkembangan seni custom Jepang menjadi salah satu acuan penting bagi perkembangan custom dunia, termasuk di beberapa negara Asia, seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

 

Sebagai salah satu negara pasar sepeda motor terbesar di Asia, potensi custom di Indonesia sesungguhnya sangat menjanjikan dalam berbagai hal, semisal lahirnya genre custom baru yang khas Indonesia, aplikasi teknologi otomotif, industri part ( after market lokal ), assesories dst , baik di kelas motor besar, motor klasik, dan terutama kelas custom underbone, baik jenis motor bebek maupun skuter/ metic.

 

Kian gencarnya kontes dan kompetisi custom yang telah diselenggarakan setiap tahunnya, baik oleh club motor, dealer, media otomotif, perusahaan swasta Nasional, dsb. dalam sekala regional maupun nasional semakin menunjukkan arah dan kecenderungan dunia custom tanah air. Sayangnya, kesempatan ini belum secara khusus dikaji oleh dunia seni rupa hingga pameran ini diselenggarakan. Potensi custom sebagai bagian dari perkembangan seni rupa kontemporer sesungguhnya sangat besar, bahkan selalu up to date.

 

Kontest dan kompetisi custom yang terbilang gencar bahkan marathon di tiap kota besar di Indonesia setiap tahunnya, acapkali melahirkan kejutan baru, baik dari segi estetika, bodywork hingga detail assesori hand made. Seiring pula kian tumbuhnya bengkel/ workshop custom tanah air dari yang dikelola secara sederhana hingga pengelolaan secara professional, bahkan dengan spesialisasi tertentu.

 

Namun demikian, keterpengaruhan atas genre dan style custom mancanegara masih terasa dominan, barangkali hal ini disebabkan oleh membanjirnya part after market produksi luar negeri, dan belum berkembangnya wacana custom lokal, serta praktik modifikasi yang lebih mengacu kepada bahasa gambar daripada analisis lebih jauh atas karya acuan. Tentu saja keterpengaruhan tidak bisa serta merta dihilangkan, akan tetapi dengan kesadaran mengolah dan melakukan eksplorasi, akan menjelma menjadi pengkayaan.

 

Semoga pameran ini menjadi awal bagi lahirnya wacana seni custom Indonesia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: