Archive for the love Category

liverpool 2 – blackburn 1

Posted in love on 25/10/2010 by adhythya

liverpool

Killinger & Freund, Futuristic Motorcycle even in this era

Posted in love, oldtimer on 22/10/2009 by adhythya

Killinger & Freund Motorcycle, didirikan sekitar 1935 oleh lima orang insinyur dari Munich, Jerman, yang pengen ngemodif/menyempurnakan motor Megola (ni motor emang aneh dan mantab!), motor dengan penggerak di roda depan. Setelah kerja selama 3 th, hasilnya bener2 ajib! Pake mesin persis seperti Megola 600cc, dengan design lebih simple, apa yaaa…. bukan sekedar sederhana namun ngepas, getchoo, dan hebatnya… bobotnya lebih ringan di banding standar motor 100cc-an di jamannya. Wuedan!!

MHV_Megola_01

MHV Megola 01, 640CC (1921-1925)

DESIGN – The motorcycle featured a three cylinder two-stroke engine built right into the front wheel, transmission and clutch, with more comfortable front and rear suspension. Streamlining was important as aerodynamics was the first priority of the team who wanted all the moving parts covered, dirt and mud protection, and an elegant style. Other priorities were that the motorcycle be multi-cylinder and possess front- wheel-drive. Their design met with success.

AERODYNAMICS & STEERING – The first impressions of the new motorcycle was of a streamlined racing machine with rounded covers for the front and rear wheels, aerodynamically improved fork, frame, and fuel tank all built on a tubular framework covered in sheet metal.

The rear suspension was linked to the lower end of the tubular frame and featured flexible rubber and metal elements that did not require servicing. Steering was much like an ordinary motorcycle but with more vertical telescopic elements than usual, which translated into a wheelbase that wouldn’t change much whenever the front fork dived.

FRONT WHEEL DRIVE, CARBURETOR, IGNITION – The new front-wheel-drive was a vast improvement over the old Megola design. The weight of the engine was lower. The front wheel with integrated engine had a combined weight of 50 kg (110 lb). Additionally, a custom carburetor without a float needle didn’t have the problems caused by vibration. And finally, the light-weight battery ignition allowed trouble-free engine starts and helped to keep the engine weight low. The distributor and the points were located in the hub. The technicians originally intended to build a dynastarter. These improvements would have been impossible to add to the old Megola design.

THE ENGINE, TIMING, CLUTCH & TRANSMISSION – The three cylinder two-stroke engine used a Drehschieber (“rotary valve”, a turning disk, with intake holes for exact timing of the fuel-air mixture intake). The fuel-air mixture was sucked in by the vacuum in the three crankshaft housings as usual. The Drehschieber does the intake timing for all three cylinders. The engine was not a radial engine associated with aircraft and there is no need for a flywheel. All three cranks worked on one common gear. This arrangement and the recoil of the pistons in the turning direction secured a perfect balance of the moving parts. The cylinders were made of KS (Kolbenschmidt) iron cylinder walls and were embedded in the Silumin alloy engine housing. The only things that could be visibly identified as engine parts were the alloy cylinder heads with multiple cooling fins and the exhaust pipes located between the spokes of the cast alloy front wheel. These flat spokes were designed to serve as a functional cooling fan. The two-speed transmission was built as a differential transmission and used slope-meshed gears. The clutch was made of conventional clutch disks. The clutch (with the springs at the outer circle) was located in front of the transmission. The transmission was actuated by foot-operated steel cables. All parts of the engine allowed easy access for service work. After the removal of the engine – only two bolts and some wiring had to be removed – all important parts were within reach.

Killinger & Freund

Killinger & Freund

TIRES, SHOCK ABSORBERS, FUEL & SEAT ADJUSMENT – The tire could also be removed easily. You had to unlock a safety mechanism and then remove the tire completely with the split rim (very similar to the split rim developed by BMW). The front brake was installed in the hub. The rear suspension also had telescopic oil-filled shock absorbers. The gasoline flowed down through flexible hoses. A panel in the frame allowed easy access to the seat springs to adjust the hardness of the seat’s suspension.

Killinger & Freund

Killinger & Freund

OPERATIONAL HISTORY – The Killinger and Freund Motorrad (motorcycle) was test-driven after the engine was tested on a test stand. Its total weight was 135 kg (297 lb).

This design was intended for civilian production but the start of World War II cancelled those plans. One motorcycle was discovered by the US Army in the spring of 1945 at a German military installation but it is not known if this was the original prototype or another Killinger und Freund Motorrad. The disposition of that captured vehicle is not known.

Begitu bohay… bahenol… tapi tetep gahar buat diajak perang. Hehehe, setidaknya perang gengsi, dong!

Kira-kira, sekarang siapa yang punya , ya? ck ck ck…

sumber: http://www.cybermotorcycle.com dan http://en.wikipedia.org

DKW RT125 – The Most Copied Motorcycles Ever

Posted in love, oldtimer with tags on 22/10/2009 by adhythya
DKW125W-autogallery.org.ru

DKW125W-autogallery.org.ru

DKW Reichs Typ 125cc, atau dikenal dengan nama DKW RT125, adalah pengembangan DKW RT100, juga RT3/ RT2,5 tahun 1938 (97cc).

Di perang dunia ke-2, DKW ikut berperang demi Fatherland (btw, kayaknya cuma Jerman ya, yang bilang tanah air tuh, FATHERLAND… Negara lain nyebutnya Motherland, Ibu Pertiwi. Hhmmm…) bersama Wehrmacht, militer Jerman, memproduksi motor kecil untuk keperluan wara-wiri perang. Bukan sebagai motor tempur namun lebih berfungsi sebagai motor komunikasi atau istilah kerennya, kurir.

Ya, dengan berat hanya 68 kg (alumunium block) dan 90 kg (cast iron block), 123cc, 90km/jam, dan buatan Jerman (pastinya…!!), type yang dilansir tahun 1943 ini memang lincah, tahan banting sekaligus bandel. DKW RT125W (W = Wehrmacht)

Sekalahnya Jerman, blueprint DKW RT125, yang tenar disebut UNION di Indonesia, langsung menjadi pampasan berharga bagi para pemenang perang, dan terciptalah “tiruan-tiruan”-nya.

<DKW dari tahun ke tahun> <Spesifikasi DKW RT 125>

HUMMER – Harley Davidson, Amerika

Hummer sebenarnya adalah motor Harley-Davidson, single-cylinder, 2 tak, buatan 1955 – 1959. Namun, sekarang menjadi nama generik untuk seluruh motor single-cylinder, 2 tak, yang diproduksi Harley-DavidsonHowever mulai tahun 1948 – 1966. Hanya awalnya saja harley membuat versi 125cc-an, selanjutnya “Hummer” ber-cc 165-175. Cuma emang namanya Amerika, Hummer dibuat lebih menarik secara tampilannya. Simak di: www.harleyhummer.com dan wikipedia.org/Harley-Davidson_Hummer

BANTAM – BSA, Inggris

Inggris pun tak mau ketinggalan menikmati desain pampasan perangnya. BSA, Birmingham Small Arms Company, mendapat kehormatan untuk membuat BSA Bantam mulai 1948 (125 cc) bahkan terus memproduksinya sampai 1971 (ber-cc 175 cc). Populasi BSA Bantam sangat besar di masanya, terbilang lebih dari 250 ribu, bahkan katanya hingga 500ribu unit di seluruh dunia. BSA Bantam model D1, buatan tahun 1949, adalah tipe paling terkenal dan hanya dijual dalam 1 warna saja, Mistygreen, 123cc. Detail Bantam lainnya, tengok saja di: http://en.wikipedia.org/wiki/BSA_Bantam, dan mistgreen.com

bsa bantam-www.kawasakimotorcycle.org

bsa bantam-www.kawasakimotorcycle.org

M-1A Moskva – USSR

Juga hasil papasan perang dunia ke-2. Rusia mengembangkan DKW, yang dikenal dengan nama MINSK.

Moskva-M1A-1950

Moskva-M1A-1950

http://en.wikipedia.org/wiki/Minsk_(motorcycle)

http://mzmotorcycles.co.nz/mzmotorcycles%20web%20site/MZ%20Web%20Site/History.html

DKW IFA – DDR, Jerman Timur

Walaupun negara “induk”, Rusia, telah membuat tiruannya, Jerman Timur tetap meneruskan pabrikasi DKW dengan seri MZ, yang tenar disebut DKW IFA – Industrieverband Fahrzeugbau (Industrial Association for Vehicle Construction) –

mz_rt125 - 1959

mz_rt125 - 1959

Yamaha_YA-1, Jepang

Hhhmmm… udah nebak, doooong! Mirip, khan dengan DKW Union…. terutama yang DKW RT125 deLux, 1954.

YA-1, 1955

YA-1, 1955

Jadi…. bayangin aja, 5 negara pabrikan terkenal mau2nya bikin motor niru DKW. Motor dengan spec 1 silinder, 2 tax, cungkring…. tapi mantab, pake B. Yaaa, apalagi kalo bukan karena DKW emang TOP!!

Gak salah deh, kalo panjangannya DKW adalah Das Kleine Wunder alias si kecil ajaib!

Truuuung-truuung-trung-trung-trung… Gaspoll, maaaang!!

source: wikipedia.org/RT_125, harleyhummer.com, dll.

motor-motor perang dunia ke-2

Posted in love with tags , on 29/04/2009 by adhythya
Wehrmacht-heer helmet 1942 - wikipedia

Wehrmacht on helmet 1942 - wikipedia

Waktu nulis tentang BMW – The Perfectionist, si gueh jadi kepikiran kendaraan-kendaraan perang dunia ke-2. Iya, lah… tanpa kendaraan, perang bagaikan sayur asem tanpa asem! Hehehe… teu puguh – mode on.

Perang dunia ke-2 adalah perang modern pertama dengan beragam kendaraan perang canggih dan melegenda hingga kini. Sebut saja, mulai pesawat tempur/bomber/angkut, panser, tank, jeep, truk, hingga motor-motornya, sampe hari ini masih jadi omongan orang.

Nah, buat kali ini, secara si gueh lagi suka motor, kita bahas yuk motor-motor perang dunia ke-2.

1. Zündapp KS750
(1941-1948, 751cc, 26hp, twin 4-stroke OHV, cardan)

Zündapp KS 750 dan BMW R 75 diproduksi spesial order buat German Wehrmacht, alias Angkatan Bersenjata Jerman, jaman Hitler. Sekitar 70% suku cadangnya sama persis. Untuk bagian mesin, bahkan ada yang yang bilang, BMW R75 bener-bener plek-ketiplek ngikutin si Zündapp KS 750 ini. Wajar saja, kan jaman perang. Jadi harus ekonomis, simple dan gampang nyari sparepart kalo ada apa2.

Karakteristik motor perang ini unik. KS750 dan R75, dibikin langsung dengan sidevan/sesvan dengan roda belakang baik di motor dan sesvan, sama-sama sebagai penggerak roda. Gigi persnelingnya sampe 4 di jalan normal – 1 offroad – 1 untuk mundur yang dapat di kunci. Rem di motor dan sesvan pake sistem hidrolik (motor pertama dengan teknologi ini).

Pernah pake motor ATV? Nah, si KS750 dan R75 tuh, bisa dibilang cikal bakalnya.

Zundapp KS750 - Steven Kuhn

Zundapp KS750 - Steven Kuhn

Spek motor:
Years of production: (1939 pre-series) 1940 – 1948
Overall production: appr. 18695 units
3×2 military motorcycle with sidecar wheel drive
Engine: 26hp/4000rpm, opposite OHV 2-cyl, 4-stroke 751cc
Bore/Stroke: 75/85 mm
Compression ratio: 6,2 : 1
Length: 2385mm, width: 1650mm, height: 1010mm
Wheelbase: 1410mm
Gearbox: 4 foot + 1offroad hand + 1back speeds
Weight: 420 (400?) kg
Cardan
Maximal speed: 95 km/h, minimal – 3 km/h
Tyres: 4,50/4,75-16 inches, offroad
Fuel tank capacity: 23 L
Petrol consumption: 7 L/100km (highway), 9 L/100km (offroad)

2. BMW R75
(1941-1945, twin 745cc with 3×2 wheel formula)

Karena diciptakan spesial untuk menunjang Wehrmacht, militer, Zundapp dan BMW memproduksi hybrid sesvan, dengan part number: 286/1, yang bisa dibunakan baik di R75 maupun di KS750.

BMW berhenti memproduksi R75 tahun 1944 setekah pabriknya di Eisenach rusak parah dibom sekutu.

R75 dan Zundapp KS750, sekarang jadi incaran kolektor dengan harga yang tuiiiinggi tenan!

BMW R75-wehrmachtsgespann

BMW R75-wehrmachtsgespann

Spek motor:
Years of production: 1940 – 1944 (+ 1945)
Overall amount: 17000
and about 160-210 post-war escort bikes for Stalin.
Engine: 26hp/4400rpm, 2-cyl OHV, 745cc, 4-stroke
Bore/Stroke: 78/78 mm
Length: 2400mm with sidecar, width: 1730mm with sidecar,
height: 1000mm
Wheelbase: 1444mm
Gearbox: 4 (offroad – 3)+1back speeds
Weight: 410 kg (with sidecar)
Maximal speed: 92 km/h, minimal – 3 km/h
Tyres: 4.5×16 inches
Fuel tank capacity: 24 L
Fuel consumption: 6.7 L/100km at 61 km/h,
Offroad – up to 9 L/100km.
Climbing capacity – short climb 40 %, long climb 35 %,
fording capacity – 350 mm

3. BMW R71
(1938-1941, twin 745cc, 3458 built)

Sebelum perang, motor ini sempat diekspor ke Belanda sebagai motor militernya, bahkan menjadi prototype motor perang Sovyet (IMZ Ural, M72), yang kemudian digantikan dengan tipe lebih canggih, R75.

BMW R71-autogallery.org.ru

BMW R71-autogallery.org.ru

Spek motor:
Years of production: 1938 – 1941
Overall production: 3458
Engine: 4-stroke sidevalve opposite 2-cyl., 597cc, 22hp/4600rpm
Bore/Stroke: 78/78 mm
Compression ratio: 5,5 : 1
Length: 2130mm, width: 815mm, height: 960mm
Wheelbase: 1400mm
Carburetters: 2 x Graetzin G24
Forced feed lubrication
Clutch: dry single plate
Battery ignition
Generator: Bosch RD 50/6 2800 RS 17
Spark Plugs: Bosch W 175 T1
Gearbox: 4 speed
Ratios: I – 3,6; II – 2,28; III – 1,7; III – 1,3
Rear Wheel Ratio:
1 : 3,6 (10 : 36), sidecar 1 : 3,89 (9 : 35)
Tubular frame
Front fork: telescopic
Rear suspension: telescopic
Weight: 187 kg
Maximal speed: 125 km/h (solo) 105 km/h (with sidecar)
Tyres: 3,5×19 inches
Fuel capacity: 14 Ltr.
Fuel consumption: 4,5 Ltr/100km
Oil consumption: about 1 Ltr/100km

4. BMW R35
1937-1940, single 342cc, 15386 pre-war built.
post-war, 1946-1951 by USSR/East German with brand EMW, built over 34000 unit.

R35 pertama diproduksi bukan untuk keperluan perang, 1937. Namun saat perang meletus, BMW membuat seri perangnya, dan setelah perang selesai, R35 kembali diproduksi di Jerman Timur, di bawah nama EMW.
1. Pre-war R35 (civil) – BMW
2. Pre-war R35 (military) – BMW
3. Post-war R35 (1945-51) – EMW (VEB Eisenacher Motoren-Werke)

Selama perang dunia ke-2, R35 baik yang dengan/tanpa sesvan, bermesin 1 silinder air-cooled dengan 4 kecepatan gearbox, melayani Jerman dengan setia.

BMW R35-bmbikes.co.uk

BMW R35-bmbikes.co.uk

Spek motor:
Engine: overhead valve 14hp/4750-5000rpm, 1-cyl, 4-stroke, 342cc
(1937-1940: 3500rpm; 1953: 4500rpm)
Bore/Stroke: 72/84 mm
Compression ratio: 5,4 : 1 (1937-1940: 6,0 : 1)
Length: 2180mm, width: 740mm, height: 1000mm
Wheelbase: 1360mm (1937-1940: 1400mm)
Gearbox: 4 speeds
Weight: 162 kg (1937-1940: 155kg; 1953: 170kg)
Maximal speed: 100 km/h
Tyres: 19×3, 19×3.5 inches
Fuel tank capacity: 12 L
Fuel consumption: 3,5 L/100km at 60 km/h
Oil consumption: 0,1 L/100km

5. BMW R12
(1935-1941, twin 745cc, 36002 unit)

Di produksi dengan 2 spek, singel dan double karburator. Motor ber-cc besar ini, merajai awal-awal perang dunia ke-2. (Data mesin &foto banyak di http://www.autogallery.org.ru, sayangnya data historisnya minim, ey… kalo punya dishare, ya! thx)

BMW R12-achtungpanzer.de

BMW R12-achtungpanzer.de

Spek motor (tanpa sesvan):

Weight: 180kg
Crew: 3 men
Engine: BMW R-12 746cc / 2-cylinder / 18hp
Speed: Road: 100km/h (w/o sidecar) / 85km/h (with sidecar)
Cross-Country: –km/h
Range: Road: 230km
Cross-Country: —km
Fuel Capacity: — litres
Lenght: 2.10m
Width: 0.90m
Height: 0.94m
Armament: none or 7.92mm MG34
Ammo: none
Armor: none

6. NSU Kettenkrad
The most “beautiful” war motorcycle ever.

SdKfz 2, dikenal dengan nama Kleines Kettenkraftrad HK 101, atau NSU HK 101, disingkat Kettenkrad (Ketten = truk, krad = military, Kraftrad = motorcycle), dibangun sebagai traktor ringan untuk pasukan penerjun. Didisain untuk dibawa pesawat angkut (sekalaigus pembom) Junkers Ju 52

Motor traktor buatan NSU Motorenwerke AG di Neckarsulm, Jerman ini lebih banyak dipakai di wilayah timur peperangan, Sovyet, dan sangat berguna untuk menarik beban berat serta serdadu yang terperangkap lulmpur. Di kemudian hari, Kettenkrad digunakan juga untuk menarik dan memadu pesawat, sekaligus menghemat bahan baker pesawat saat parkir.

Berkemampuan mendaki di kemiringan 24° di pasir, bahkan bisa lebih curam bila di tanah keras, tinggal kumaha kawani nunumpakan motor… hehehe!

Di akhir perang, Kettenkrad digunakan untuk keperluan pertanian 😦

sdkfz 2-NSU kettenkrad-wikipedia

sdkfz 2-NSU kettenkrad-wikipedia

Spek motor:
Years of production: 1940-1945
(data about who produced in 1945 are missing)
By firms: 1940-1944 (NSU), 1943-1944 (Stoewer)
Overall production: 8345 (sum by years is slightly different – 8560)
By firms: not known
By years: 1940: 124; 1941: 420; 1942: 985; 1943: 2450; 1944: 4490;
1945: 191
1+2-seater half-track motorcycle
Modifications:
Sd. Kfz. 2 – small halftrack motorcycle
Sd. Kfz. 2/1 – small halftrack motorcycle for phone cable
Sd. Kfz. 2/2 – small halftrack motorcycle for heavy phone cable
Length: 3000mm; width: 1000mm; height: 1200mm
Wheelbase (front wheel – track middle): 1352mm
Road clearance: 230mm
Rear track: 816mm
Chain: length: 4800mm; width: 170mm, driving front sprockets
40 steel 120-mm elements with rubber in every chain, on 1+4+1 wheels (these 4 in chess order)
Turning radius: 2,25 m
Engine:
carburetter “Opel Olympia 1,5 Liter” 36hp/3400rpm, watercooled straight 4-cyl. OHV 4-stroke, 1488cc
(in the middle, behind driver)
Bore/Stroke: 80/74 mm
Pistons type and material: EC, Autothermik
Compression ratio: 6 : 1
Carburettor: one Solex 32 FJ II
Carburettor data: ?
Electrics: 6V, battery capacity – 75 A*h
Generator type and power: ?; ?W
Starter type and power: ?, ? hp
Spark plugs type: ?; ?mm; electrode clearance: ? mm
Clutch: dry single plate
Gearbox: 3-speed x 2-speed auxilliary box
Ratios (offroad): I – 14,80; II – 9,70; III – 5,95
Ratios (highway): I – 2,57; II – 1,69; III – 1,03
Steel sheets frame
Front suspension: parallelogramm
Rear suspension: torsion bars for bogie wheels
Mechanical brakes on sprocket wheels with automatically controlled differential
Weight: 1280kg + 325kg load (including crew of 3);
maximal hook ability: 450kg
Maximal speed: 70 km/h
Tyre: 3,50-19 inches
Tyre pressure (atmospheres): ?
Fuel tank capacity: 2 x 21 Ltr.
Petrol consumption: 16 Ltr/100km (highway), 22 Ltr/100km (offroad)
Cooling system capacity: ? Ltr.
Gearbox oil carter capacity: ? L
Ford depth: 440mm

7. DKW NZ350/1
DKW NZ350, NZ350-1 (Wehrmacht version: 1939-1943-1945)

Sebagai pabrikan motor, DKW pun “menyambut” perang dunia ke-2 dengan menciptakan seri NZ. Sayang, Wehrmacht tidak begitu tertarik dengan penggunaan mesin 2 tak. Walaupun begitu, Wehrmacht’ tetap memerlukan motor murah dan simple yang dapat digunakan untuk divisi pemandu dan komunikasi. Itulah tugas si DKW NZ 350.

Versi sipil dan militer DKW NZ 350 tidak ada beda sama sekali. Tahun 1943, versi militer DKW NZ350/1 hadir dengan perbedaan pada blok mesin yang terbuat dari besi (versi sipil dengan aluminum), centrifugal air filter dan beberapa modifikasi. NZ 350 dipakai di wilayah perang barat eropa. Tapi tidak sempurna untuk bekerja di wilayah Balkan dan Sovyet, di mana jalannya begitu rusak, serta tidak kompeten untuk dipakai lintas alam. Hal ini disebabkan beratnya yang mencapai 170 kg dengan ketinggian dasar mesin hanya 12 cm dari atas tanah.

DKW NZ350 - autogallery.org.ru

DKW NZ350 - autogallery.org.ru

Spek Motor (NZ350 & NZ350/1):
Overall production: 45000 + 12000 NZ350-1 (Wehrmacht version)
Engine: 11,5hp/4000rpm, 1-cyl., 2-stroke SV 346cc
Bore/Stroke: 72/85 mm
Compression ratio: 5,7 : 1
Carburettor: Amal M 76/426, Bing AJ 2/24, Graetzin H24; 24 mm
Slit valves
Chain
Length: 209cm, width: 75cm, saddle height: 70cm
Wheelbase: 1355mm, road clearance: 12cm
Gearbox: 4-speed, foot change
Pressed steel frame
Parallelogram front fork
Weight: 145 kg (aluminium block)
Maximal speed: 105 km/h
Tyres: 3,25-19 inches
Fuel tank capacity: 14 Ltr.
Fuel consumption: 3,3 L/100km

Setelah perang, seluruh produksi DKW NZ350 dipindahkan ke Izhevsk (USSR), yang kembali memproduksinya di bawah nama baru IZh-350 sebanyak 12709o unit selama kurun waktu 1946-1951.

8. DKW RT125W (1943)
(1943 – 1945, 1-cyl., 2-stroke 123cc)

Di tahun 1943, Wehrmacht meminta DKW untuk menciptakan motor dengan model lebih simple dan ringan untuk kelancaran tugas komunikasi perang yang semakin gencar. DKW RT 125W, mampu menjawabnya. Dengan berat hanya 90 kg, 123cc, kecil, lincah dan tahan banting, menjadikannya sebagai pilihan terbaik untuk wara-wiri selama peperangan.

DKW125W-autogallery.org.ru

DKW125W-autogallery.org.ru

Spek motor:
Overall production: 21000 of DKW RT 125 and 12000 of DKW RT 125-1 units
Engine: 4.75hp/4800rpm, 1-cyl, 2-stroke 123cc
Slit valves
Bore/Stroke: 52/58 mm
Compression: 6:1
Carburettor: Amal E 68/18, Bing AJ 1/16 N, Grätzin K 16/A; 16mm
Length: 196cm, width: 66cm, saddle height: 68cm
Wheelbase: 1230mm, clearance – 15cm
Gearbox: 3 speeds
Chain
Tube frame
Parallelogram front fork
Weight: 68 kg (aluminium block)
Maximal speed: 72(?75) km/h
Tyres: 2.50-19 inches
Fuel capacity: civil – 7.5L, Behördenausführung – 9 L
Fuel consumption: 2.3 L/100km

source: wikipedia, autogallery.org.ru, wehrmachtsgespann.de, achtungpanzer, bmbikes.co.uk,

Weitttt…. jadi inget. Itu semua motor perang dari Jerman. Nah, emang musuhnya, si sekutu tea, gak punya motor? Ada atuh! Ntar di bag. 2, kita ngebahas motor perang sekutu! Siap??

motor tua di parkiran

Posted in love, rock&roll with tags , on 20/04/2009 by adhythya

Hari ini, di parkiran motor, sebuah motor tua (kalo liat di penengnya, th 1955) menjadi motor of the day. Pantas emang… mulus, rapi, warna silver-hitam… (atau hitam-silver? hehehe… 50-50 lah!!). Berdiri tegak dengan standar gandanya, gagah, membawa pesona ke-priyayi-annya. Bayerische Motoren Werke AG (Bavarian Motor Works), atau orang kenal BMW. Dipenengnya tertera BMW R25/3.

BMW R25/3 - forgotten link, sorry

BMW R25/3 - forgotten link, sorry

Semua orang nanya gw, “Djo, motor luh?”. Huhuhu… unfortunately bukan, lur! Tapi tak’ape-lah, gw cukup senang melihat parkiran motor Gd.oleos, yang kini telah beratap… hehehe…, dihiasi dengan berbagai motor tua.

Ada vespa, sori berhubung gak minat (belum kali ya…) jadi gak hapal serinya, sempet liat cb-100, kadang Triumph-nya si Pak John, sekarang ada BMW R25. Asiiiik… DKW gw gak akan sendirian lagi.

Besok, kalo gak ada aral-melintang, gw bawa deh si hedjo. Siapa tahu… kalo dideketin ama “temennya”,bisa ketularan punya adek semulus itu.

hehehe…

naura’s way

Posted in love with tags on 18/04/2009 by adhythya

naura's 1st wrote

naura's 1st wrote

Mungkin seharusnya gw mulai ngblog 3 atau bahkan 4 th lalu. tapi… baru hari ini gw ngrasa “ok” buat mindahan catatan harian. Dari buku diary (hahaha… preman kok ber-diary, ya??) ke model soft copy kayak gini. Hhmmm, sebuah keputusan yang sulit (anjrit… xixixi) dan sebenernya males juga sih.

Knp? hehehe… (1) privacy, walo bisa aja khan di-hide atau just save as draft or not published, tapi kok tetep.. ada rasa “asik” yang hilang. (2) emosi, pan kalo di buku… tulisan kita berkarakter. Saat kita sedih, goresannya beda ama kalo kita senang. Waktu kita marah.. pasti beda dengan kondisi (goresan) tulisan pas kecewa. Not just content… all the posting will brings back to the time we wrote (juga… gak ada yang komen/nghina kalo inggrisnya salah kyk gini. hihihi…), dan (3) comment, males bgt gak sih? nulis ini-itu… ngomong apa-api… dikomen orang.. haaa!! Buat byk orang, jaman emang udah narsis. Pengen selalu up-date ama sekitarnya. Pengen selalu keliatan,dibanding tetangganya, dan segala narsistik lainnya. Bwuaah!!! Emang ujungnya sih tergantung niat. Dan niat gw adalah… “Paduli setan… ieu tulisan aink, kumaha aink!” xixixi… (4) terakhir, dan paling utama, pan gw gaptek! serta lumayan males buat ngulak-ngulik kecanggihan teknologi.

Tapi, akhirna urang eleh oge! Teu eleh sih… sadar! Bahwa, perlu juga sih buat (bahasa lain dari narsis, nih) aktualisasi diri. Not just being present, but more for being live. Huahahaha… alasan, anjink! Intinya mah, lagi pengen aja. That’s it. Walo, pasti selalu ada api untuk ada asap, kan? Thx to Naura. Anak urang.

Kisahnya gini, feb’09. urang karek pindah ti DDB ke Grey. Namanya orang baru… baru pindah kerja, salah nego pula, dan ngerasa banyak yang salah dengan tempat yang baru. Di gw-nya… dan work environment-nya. Aneh lah buat sebuah agency kreatif. Pulang malem… pagi malah, itu udah biasa. Cuman pulnag pagi dan kemudian dipotong gaji karena datang agak siang… DAMNED!! Itu yang gw kagak terima. Lha, kok jadi curhat? hehehe… biarin aja! Ini blog gw… mo apa luh? Gak seneng? Jangan baca!!

Emang sih, bukan kena ke gw. Cuman… tinggal nunggu waktu kapan kena! FYI. yang kena kayak gitu, rata2 anak (maap, dah pada tua… bapak2 🙂 ) studio. And the worse is, there are too afraid (or too old) to protest, the injustice system.

Haaalaaah….. ngaco! Akhirnya, gw jadi sering uring2an… gak tau musti ngapaen. Di tengah kebutuhan gw buat (btw, gw mau pindah ksana karena mereka sedang bikin betoel creative platform… so, hopefully it could be meet of my need!) belajar… ngejar ketertinggalan (awards can be as an option… )… kerja pagi ke pagi. Ulik sana-ulik sini. Butuh back up. Support and willingness. Itu yang gak bisa gw tolerir. Gimana bisa tega? Wong ntar mereka yang susah! Tapi gw juga butuh!

So, pas keur pusing2na kitu… ama istri, yang asalnya begitu amat pengertian dengan pola kerja sbg buruh iklan, mulai sering brantem gak jelas. Pasti karena si gw-nya yang gak fokus. Ama anak jarang ngobrol… dan efeknya, ama kerjaan juga gak fokus-lah. Jadi gak ada yang fokus!

Ajaib, emang! Niat belajar. Gaji brani turun. “Bonus” gw buang. Status gapapa probition lagi. Medical insurance, nothing ’til pass the prob. Tapi gw gak bisa belajar! DAMN… DAMN… DAMN…

Dan pulanglah, jam 3 pagi, lupa tgl brp, bulan Februari’09. Gw nemu di bawah bantal… the naura’s post. Gw ngerasa udah ninggalin tujuan utama gw hidup… SENANG-SENANG. (hehehe… kesanya hedonis bgt, ya?? ntar gw scan-lah filosofi HIDUP SENANG-SENANG). Thats change everything. Thats make me stronger and think for better.

And finally, itu juga yang bikin gw brani buat buka blog. Utarakan maksud loe dengan cinta. Coz love will always brings u to the good things. Just show it. Do it with your heart. And lets the universe finish it.

Naon sih? asa teu nyambung… bae weeeee…..

Hahaha… nuhunnya, neng!