Archive for the rock&roll Category

The Art of Motorcycle

Posted in diary, jurnal, rock&roll on 05/09/2011 by adhythya

Sebuah copas artikel sangat menarik dari sebuah pagelaran seni kontemporer yg akan digelar di Taman Budaya Yogyakarta, 18 Agustus 2011, dgn kuratorial oleh Nur Kholis (alm), seorang pecinta motor antik yg telah ngegas ke alam baru, mendahului kita. RIP brotha!

 

1.Otomotif dan Gerakan Seni Rupa
Persentuhan antara seni rupa dan otomotif – sesungguhnya telah lama terjadi. Di beberapa negara maju, terutama Amerika dan Inggris, dunia custom, sejak era 40-an hingga 70-an telah menjadi bagian dari perkembangan seni dan budaya massa, bahkan menjadi salah satu penyokong lahirnya gerakan seni rupa LOWBROW ART ( di LA, California pada akhir 70-an), sebagai antitesa atas kesenian yg dianggap mapan, karena diakomodir oleh dunia akademis, lembaga/institusi seni, media serta pasar.

 

Gerakan LOWBROW ART berusaha menyajikan karya-karya alternatif diluar jangkauan mainstream seni rupa, meliputi segala genre seni visual underground, modifikasi/ custom, hot rod, t-shirt, tattoo, punk, aksesories, object, street art, mainan/toys, bahkan musik, humor dan film underground.

 

Secara bersamaan, ditopang pula oleh munculnya gerakan etik DIY Culture ( Do It Yourself; Terutama di Inggris dan Amerika ), sebuah gerakan kolaboratif antara seniman dan masyarakat luas di dalam menentang ketergantungan terhadap produk, industri, konsumerism, kemapanan teori, dan sumber referensi. Gerakan Do it Yourself memberikan motifasi akan kemampuan skill seseorang melakukan apa saja sebagai bentuk kreatifitas, mempublikasikannya dan mempromosikannya sendiri, tanpa harus tergantung pihak lain.

 

Terminologi yang ditawarkan sangat jelas: “doing anything at all, including your own version of whatever you think is missing in mainstream culture”, intinya bahwa setiap individu memiliki potensi menjadi kreator/ pencipta dengan caranya masing-masing.

 

Gerakan ini salah satunya telah melahirkan Motorcycle Artist, yaitu munculnya para seniman dan kreator yang pada akhirnya memberikan pengaruh besar pada perkembangan custom hingga saat ini. Sebagai sebuah gerakan budaya ( kendatipun jarang terekspose di dunia seni mainstream), Lowbrow Art dan DIY Culture sangat efektif, bahkan berkembang hingga sekarang, merambah jaringan internet. Contoh konkrit adalah hadirnya jejaring sosial seperti: Newgrounds, DeviantArt, Facebook, Instructable dan Youtube. Situs-situs ini sangat memungkinkan seseorang mengaktualisasikan diri, mengupload hasil kreatifitas apa saja, promosi, berbagi, dan publiksai secara bebas.

 

Tak jarang kita dikejutkan hadirnya nama –nama yang tadinya “bukan siapa-siapa” mendadak terkenal setelah video diunggah ke Youtube, semisal; Keong Racun/ Shinta dan Jojo, Justin Beiber, juga builder dan seniman ( pematung ) asal Jepang Shinya Kimura dengan karya dan konsep customnya Zero Design yang fenomenal.

 

Di dunia otomotif dan custom, kesenimanan ini muncul sebagai manifestasi konkrit atas kuatnya pengaruh Lowbrow Art dan DIY Culture di samping dari proses panjang persilangan kreatif antara mereka, para biker, yg memang berlatar belakang seni, seperti: David Mann (pelukis), Kenny Robert Howard aka Von Dutch (seniman Pop), John Eric Franzen ( profesor seni, anggota Hell Angel), Ed Roth aka Big Daddy (seniman, kartunis, pencipta istilah Hot Rod; custom car), Dave Perewitz ( pegrafis), David La Brava ( seniman tattoo, aktor, penulis, anggota Hell Angel), dan mereka yang berasal dari profesi lain namun memiliki sense of art yang tinggi, seperti: Larry Desmed aka Indian Larry ( mekanik, stuntman, mantan perampok bank ), Arlen Ness (engineer), Dean Jeffries (stuntman, tv programmer), Billy Lane (mekanik), Cliff Vaughs dan Ben Hardy. Dan masih banyak lagi nama-nama yg bisa disebut sebagai Motorcycle Artist dalam beberapa disiplin dan spesialisasi, dari Pinstriper, painter, engraver, customizer, builder dan designer.

 

Sesungguhnya Lowbrow Art adalah perkembangan puncak dari sebuah gerakan seni yang dipelopori oleh “Big Daddy” Ed Roth dengan gerakan “Kustom Kulture”nya bersama dengan Kenny Howard “Von Dutch”, Dean Jeffries, George Barris, Indian Larry dan beberapa seniman non biker lainnya di California pada th 60an. Kustom Kulture telah menjadi neologism, yaitu sebuah terminologi baru atas munculnya fenomena seni visual yang dianggap belum berlaku di dunia seni secara umum, atau diterima oleh mainstream seni rupa.

 

Kata Kustom Kulture telah menjadi penanda bagi identifikasi karya seni yang ada kaitannya dengan dunia biker (pecinta motor), otomotif dan custom (meliputi; motor, mobil, fashion, merchandise, tattoo, hairstyle, lukisan, komik, kartun, dan karya underground lainnya dari musik, film, tipografi, dsb.), sebuah usaha riil yang layak dihargai sebagai counterculture atas kekuasaan seni mainstream.

 

 

2.Konsepsi dan perkembangan Custom

Tradisi custom diawali dari kembalinya para veteran PD II, ke Amerika. Mereka mencari kesibukan baru sebagai alternatif pekerjaan dan hiburan karena nasib mereka tidak banyak terakomodir oleh sistem dan lapangan kerja.

 

Terinspirasi oleh motor buatan eropa yang lebih praktis dan ringan yang pernah dikendarai semasa PD II, mereka memodifikasi motor buatan Amerika ( HD, Indian ) dengan memangkas part yang kurang diperlukan, mejadikan lebih simple dan ringan dengan melakukan “bobbing”/ meminimalisir ukuran fender belakang, atau menghilangkan fender depan. Kebiasaan mem”bobbing” ini kemudian memunculkan genre Bobber. Di masa awal ( 50an), Bobber cenderung mempertahankan frame pabrikan. Aplikasi pinstriping, desain yang rendah dan lebih ramping dibanding motor aslinya, menunjukkan pengaruh Art Deco yang memang akrab dengan mereka di tahun 30an.

 

Chopper adalah genre kedua yang muncul, sebagai medium ekspresi yang lebih bebas, dengan melakukan modifikasi lebih radikal. Melakukan “chopping”/ pemotongan, mendesain ulang, menghasilkan tampilan tunggangan yang lebih otentik. Sejak awal chopper lebih akomodatif terhadap material baik itu dari motor pabrikan atau motor yang dipungut dari rongsokan sebagai bahan baku/ material. Kendati kaidah bobber masih dipakai, satu ciri yang paling mencolok pada chopper adalah perubahan panjang frame, rigid ( tanpa suspensi belakang) dan stretching pada bagian front end ( Rake), serta penggunaan fork depan yang lebih panjang. Aspek redesign juga nampak mencolok pada varian gas tank serta varian handlebar.

 

Selain menghasilkan penampilan tunggangan yg berkarakter freedom, dan “bumpy”/ seksi, design chopper memberikan sensasi handling yang menantang, sekaligus kenyamanan pada kecepatan tinggi di jalanan lurus. Pengaruh art deco masih sangat kental pada design, pinstriping, graphic yang acapkali pula dikombinasi dengan unsur art nouveau untuk memberi kesan klasik namun berjiwa muda.

 

Perkembangan chopper dan bobber menjadi kian pesat dan mendunia, pasca gerakan Kustom Kulture, Lowbrow Art, dan DIY Culture, ditunjang dengan pengaruh film box office Holliwood tahun 1969: “Easy Rider” yang dibintangi oleh Peter Fonda, Dennys Hopper dan Terry Southern, dengan menampilkan chopper legendaris “Captain America”, karya duo seniman dan builder Cliff Vaughs dan Ben Hardy. Chopper segera menjadi ikon anak muda, sebagai simbol semangat, kebebasan, dan pemberontakan.

 

Di antara dua genre di atas, muncul pula Ratbike, istilah yang menandai kultur jalanan, yang ditunjukkan dengan motor-motor kurang terawat dan dekil karena lebih banyak menghabiskan waktu di jalan. Sebuah ode atas perjalanan, petualangan dan pengembaraan, di mana motor dipenuhi dengan benda-benda memorabilia/ kisah sepanjang perjalanan dan waktu.

 

Term awal Ratbike diduga juga muncul sebagai penghargaan para biker atas peran para veteran PD II, sebagai pelopor di dunia per-biker-an. Di tahun 80an, muncul istilah Survivalbike, motor yang sengaja dicustom ala ratbike sebagai bentuk estetika dan life style.

 

Seiring dengan semangat muda, di Inggris muncul varian custom Cafe Racer (terutama dengan motor Triumph), dimodifikasi khusus sebagai jawaban atas pengaruh musik Rock n Roll di era 60an. Varian ini sangat berpengaruh di Eropa, terutama di Jerman dan Itali (Ducati). Terma Cafe Racer, mengindikasikan sebuah design motor dengan simplisitas, ringan, sporty, gaul dan lincah untuk track pendek namun cepat. Design custom yang agak tinggi (dibanding bobber) dengan swing arm dan shock breaker belakang, sangat sesuai dengan medan jalan di Eropa, sehingga sangat fungsional dengan kebutuhan anak muda di dalam memburu hiburan dari satu cafe ke cafe lainnya sebagai bagian dari life style pada masa itu.

 

Mereka menyebut diri mereka dengan Rockers, sebagai bentuk pemberontakan atas sistem. Sebagai bagian dari ekspresi, mereka sering mengadakan race di antara dua cafe/ bar, memburu kecepatan sebelum musik dimainkan. Genre musik Rockabilly (awal dari Rock n Roll), yang masih mengandung unsur country, western swing, boogie woogie, dan rhytm and blues menjadi jiwa dari Cafe Racer.

 

Belakangan, sejak pertengahan 70an, Cafe Racer dalam aplikasinya pada motor pabrikan Jepang, mendapat sebutan baru sebagai Jap style. Sebuah terminologi yang mengindikasikan kekompakan antara simplisitas design modifikasi dengan kerapian dan teknologi otomotif yang lebih praktis sebagai ciri keunggulan mesin buatan Jepang. Ramuan antara nilai praktis, kecepatan, kerapian, simplisitas, sporty, ringan, gaul dan bersahabat, ditambah lagi dengan harga motor yang terjangkau, menjadikan Jap Style sangat populer di kalangan anak muda sejak awal 80an. Varian ini menjadi fenomena di jalanan karena populasi dan fleksibilitasnya sebagai real street bike.

 

Karakter praktis dan bersahabat seringkali menggantikan istilah Jap Style dengan istilah yang berkembang di Eropa; Brat Style (diangkat dari bahasa Slavia: Brat yang berarti sahabat). Terlebih Jap style memiliki keluwesan pada ranah custom dari cc kecil (kelas underbone) hingga cc besar (sekelas superbike).

 

Varian lainpun muncul dengan tampilan yang lebih macho dan sporty; melakukan clone character antara street bike dan trial, hingga melahirkan kesan baru; terrain motorcycle: Scrambler. Sebuah type turunan modifikasi street bike dengan kemampuan manuver di medan cross country. Ciri mencoloknya adalah aplikasi ban trial di kedua roda dan knalpot yang didesain tinggi jauh dari permukaan tanah.

Salah satu imbas balik dari menggejalanya demam anak muda di dalam menemukan karakter di dunia custom, pabrikanpun melirik kharisma Jap Style / Brat Style (yang memang memiliki performa sebagai street bike) menjadi inspirasi diproduksi dan dilaunchingnya serial komoditas sportbike ke pasaran. Tidak hanya dilakukan oleh pabrikan Jepang dan Italy yang memang terkenal dengan produk dan laga di sirkuit balap dan drag race, namun juga diproduksi oleh pabrikan Inggris (dengan Triumph Bonneville) dan Amerika (dengan HD Buell, walaupun type street bike standard tetap diproduksi semisal Sportster dan Roadster), Jerman (dengan BMW, yang rata berdesign sport sejak pertengahan 70an). Di sisi lain perkembangan pop art, yang diwakili oleh komik modern/ kontemporer, semakin menginspirasi hadirnya gaya custom terkini; Streetfighter.

 

Streetfighter, sebagai genre custom paling muda, adalah jawaban balik atas dipasarkannya Sportbike oleh pabrikan. Secara sederhana Streetfighter dapat dikatakan sebagai sportbike yang didesign ulang dengan melepas, menambah atau mengganti fairing ( komponen pendukung pada aspek aerodynamic dan hydrodynamic), serta perombakan mesin, guna menambah performa tunggangan dan lebih mencitrakan karakter agressive, exelence dan attractive. Aplikasi grafik, pinstriping, fairing geometris, serta garis tegas bodywork yang cenderung tajam menjadi ciri utamanya. Streetfighter merupakan inspirasi dari komik “Ogri” (Protagonis berkarakter Rocker biker, yang mengendarai “Armageddon”, motor custom canggih berkapasitas 1000cc, yang disebutnya sebagai Norvin; perpaduan dari Norton dan Vincent Black Shadow. Ogri juga digambarkan bereksperimen dengan motor lain (seperti Kawasaki dan BMW dengan sidecar/ sispan lengkap dengan supercharger dan turbojet) karya ilustrator Inggris Paul Sample, yang dirilis pada majalah custom bike Back Street Heroes, sejak tahun 70an hingga 80an. Komik ini dilanjutkan dengan serial baru Bloodrunner karya seniman Andy Sparrow, dengan tokoh protagonisnya mengendarai motor Jepang custom, dengan mesin 4 cylinder inline.

 

Karya custom Streetfighter pertama di Inggris diwujudkan oleh aktor Huggy Leaver dengan Harley Davidson Sportster sebagai bahan bakunya, kemudian motor buatan Jepang berkapasitas 4 cylinder, yang keduanya didesign langsung oleh Andy Sparrow, sebagai perwujudan imajinasi di dalam komiknya.

 

Eksotisme Streetfighter custom, secara timbal balik menginspirasi dan diinspirasi oleh lahirnya film bergenre fiksi ilmiah, yg tidak jarang pula diadopsi dari komik lain semisal film Superhero, Mad Max, Ultra Violet, The Blade, serta Transformers (Design custom “Three components of Arcee” garapan William Kenefick). Pengaruh berikutnya adalah lahirnya game bertema warrior dengan pertarungan ala streetfighter.

 

Yang tidak kalah menarik bahwa custom streetfighter dan street bike lebih lanjut dapat dibaca sebagai pengaruh real atas fenomena budaya steampunk, sebuah sub genre dari science fiction maupun speculative viction yang muncul tahun 80 – 90an. Steampunk adalah sebutan bagi komposisi absurd dunia sience fiction antara teknologi klasik- bahkan kuno, yang dipadu dengan aspek fantasi yang serba maju, hitech dan cybertech. Steampunk bisa juga dianalogikan sebagai bentuk anacronisme futuristik antara teknologi/ sains, sejarah, fiksi dan waktu. Suatu kerancuan antara steam/ mesin uap dan punk representasi dari contemporary life style.

 

Custom sebagai bagian dari perkembangan seni rupa secara umum terwakili oleh keyword; ‘”beautifully crafted pieces of metallurgical art,” menunjukkan keterkaitan yang intens antara kreator, bahan baku (material) serta skill (meliputi penguasaan design, konsep, mekanika, dan craftmanship) di dalam melahirkan karya yang berkarakter, bercitra personal (pribadi), dan menjadi medium ekspresi. Sebagai sebuah proses kreatif, dunia custom dengan memilih bahan baku produk jadi (dlm hal ini: sepeda motor) adalah sebuah keputusan yg ternyata tidak sesederhana definisi “custom” itu sendiri. Proses kreatif ini seolah melakukan ‘de-konstruksi’ ataupun sekaligus ‘re-konstruksi’, dengan melakukan redesign atas produk jadi yg sesungguhnya telah siap pakai. Namun demikian, redesign tetap harus mempertimbangkan aspek fungsi, engineering, serta estetika dalam satu kesatuan metallurgical art.

 

Semenjak Para Maestro seperti Arlen Ness, Indian Larry, David Mann, Big Deddy Ed Roth, Von Dutch, Chicano Roy (inventor pop off gas tank), dan beberapa pioneer lainnya memberikan ‘Pelajaran’ berharganya selama kurang lebih 3 dekade, kini tampil para builder muda yang telah melahirkan karya-karya fenomenal dengan pendekatan yang lebih mengejutkan antara konsepsi old school (retro, mengambil referensi design klasik), new school (futuristik, imajinatif), bahkan konsepsi baru dalam semangat free style, sebagaimana karya Jesse James (aktor, celebrity, builder), Jerry Covington (mekanik), Vincent DiMartino (Designer), Roger Goldammer (Engineer, builder), Shinya Kimura dan Chicara Nagata (keduanya Seniman, builder). Bahkan inovasi dan penemuan baru di bidang otomotif dan industri seni custom telah lahir semenjak tahun 70an, meliputi aspek mesin, frame dan assesori serta spare part kendaraan (after market industry). Contoh fenomenal, paling radikal sekaligus futuristis adalah penemuan Monocycle (motor custom dengan sistem satu roda) oleh Kerry McLean (Engineer) sejak tahun 1971, dan di tahun 2009, dia melakukan langkah radikal dengan super monowheel menggunakan mesin Buick V8 berkapasitas 4000cc, dengan sistem double frame rotation berdiameter besar, melingkar, sekaligus merangkap roda sehingga tangki, mesin, sistem kemudi dan pengendara berada di dalamnya.

 

3.Custom dan Statement of Art

Tak bisa dipungkiri, hadirnya builder dari Kanada dan kawasan Asia dalam dasawarsa terakhir ini, justru semakin memperkaya khasanah dunia custom, baik secara konsep dan teknis/ design. Pendekatan estetis yang lebih besar menunjukkan kecenderungan custom sebagai statement of art lebih terasa daripada dasawarsa sebelumnya.

 

Pada Roger Goldammer ( Kanada), kendati karyanya beranjak dari retro boardtrack racer, namun secara visual tampil sangat futuristis dengan inovasi kreatifnya; tanki bensin yang menyatu dengan frame, dan suspensi belakang yang tersembunyi.

 

Pada karya Shinya Kimura ( Jepang ) dengan konsep customnya Zero Design , sangat dipengaruhi oleh filosofi “wabi sabi”, yaitu estetika tradisional di dalam memahami keindahan material mentah sebagai unsur utama ballance pada setiap karyanya. Filosofi ini mengacu pada “Rock Garden”, sebuah taman Batu kuno di salah satu Kuil tua di Kyoto. Karyanya menjadi fenomenal sejak awal 90an, dengan design radikal, minimalistik, vintage looking, namun elegan dan berkarakter kokoh serta natural. Sebagai funtional art/ functional sculpture, dia sangat memperhatikan aspek bentuk dan fungsi, dalam balutan konsep zero design yang seolah-olah menisbikan kaidah otomotif. Ciri mencolok inovasi kreatifnya terletak pada design khas leher angsa ( gooseneck) kemudi. Yaitu perpaduan kemiringan leher kemudi antara bobber dan chopper.

 

Sejak 2008, muncul builder Jepang lainnya yang juga berlatar belakang seniman (pematung), Chicara Nagata. Konsepsi karyanya berawal dari hal sederhana, yaitu persoalan jalan-jalan yang dinyatakan sebagai Traveling Art. Aspek design dan traveling baginya harus terfokus pada tujuan utama, yaitu mendapatkan pengalaman estetis. Traveling art adalah perkawinan harmonis antara keindahan dan fungsi. Konsep ini sangat bertipologi seniman, karena estetika menjadi tujuan utamanya.

 

Kendati berbasis pada Cafe Racer sebagaimana kritik beberapa pakar, namun secara keseluruhan dia menolak penilaian atas karyanya sebagai varian dari langgam Old School ( retro) maupun New School ( futuristik). Dia menyatakan customnya sebagai murni karya seni, complitely original, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Inovasi segarnya terletak pada sistem suspensi depan, yang menjuxtapose girder fork klasik, di mana suspensi justru diletakkan di belakang leher kemudi. Tentu, inovasi ini harus dibarengi dengan kemampuan dan ketepatan dalam menghitung momen dan gaya berat motor pada leher, terutama dalam kecepatan tinggi. Inovasi lainnya adalah komposisi struktur line frame yang luwes, meminimalisir kesan sudut, dan posisi gearbox yang diangkat ke atas sebagai komposisi balans terhadap mesin.

 

Baginya identitas personal sangat penting di tengah perkembangan seni budaya yang cenderung mengglobal tanpa identitas yang jelas. Kenyataannya keseluruhan karyanya dalam seri Liquid Chrome dalam pameran tunggalnya di Ippodo Gallery, dan Contemporary Asian Art Fair, memang telah menyihir dan memukau dunia custom Internasional dan seni rupa kontemporer Jepang. Karyanya menjadi bagian dari perkembangan New Media Art.

 

Sementara, salah satu dari sekian banyak builder Indonesia asal Jogyakarta, Lulut “LT” Wahyudi dengan karya customnya “Kyai Prakosa” telah berhasil menyedot perhatian pengunjung dan menyandang penghargaan Best People Choice pada kompetisi custom Internasional Cool Breaker di Jepang tahun 2010. Salah satu inovasinya adalah aplikasi bronz coating pada metal dan grafis dengan muatan filosofis motif batik Keraton Yogyakarta yang dikomposisikan dengan engraving pada blok mesin meminjam inspirasi dari relief Candi Prambanan. Menyandingkan aspek lokalitas sebagai bentuk revitalisasi nilai tradisi dalam seni custom ternyata mampu menghadirkan kemungkinan baru.

 

Dominasi genre dan style custom Internasional kini seolah “ditawar” dengan munculnya genre baru dalam semangat free style. Contoh paling kongkrit adalah perkembangan seni Custom Jepang kontemporer, yang ditunjukkan dengan sekian banyak kontes dan pameran custom dalam skala nasional maupun internasional. Jap Style telah berevolusi menjadi Hidemo Style, yaitu persilangan genre custom, aplikasi techno, grafis dan design yang berusaha menyembunyikan karakter dan merk motor semula. Alhasil, citra ekspresi individual semakin mengemuka sebagai statement of art.

 

Keunggulan lain custom Jepang adalah hadirnya builder-builder seperti Keiichi Terada dari Sigma Spyder Osaka, yang banyak menggarap motor jenis skutic, terutama big scooter berkapasitas 250cc di samping kelas bebek dan sportbike. Uniknya, dunia custom skutic dan bebek ini sangat diwarnai oleh tren Mode Harajuku, dan dunia anime, dengan ciri yang sama, simple, elegan, futuristik, fancy, cool dibarengi aplikasi grafis serta warna candy tone.

 

Kesan mewah dibangun dengan aksen chrome, terutama pada gaya knalpot dual pipe dan asesori penunjang dashboard. Selain itu, modifikasi teknologi mesin ramah lingkungan berbahan bakar alternatif dan baterai mulai dieksplorasi, dipadu dengan unsur hitech; GPS, PDA, MP3, lampu LED dan aplikasi kunci kontak USB. Kesan elegan dan futuristik dibangun dengan kerapian modifikasi fairing sekujur body dan dashboard yang sangat aerodinamis, dengan tampilan visual rata-rata bergaya low rider ( ceper ), limo, bahkan ekstrem dengan aplikasi ban type touring, white wall atau sport.

 

Tak pelak lagi perkembangan seni custom Jepang menjadi salah satu acuan penting bagi perkembangan custom dunia, termasuk di beberapa negara Asia, seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

 

Sebagai salah satu negara pasar sepeda motor terbesar di Asia, potensi custom di Indonesia sesungguhnya sangat menjanjikan dalam berbagai hal, semisal lahirnya genre custom baru yang khas Indonesia, aplikasi teknologi otomotif, industri part ( after market lokal ), assesories dst , baik di kelas motor besar, motor klasik, dan terutama kelas custom underbone, baik jenis motor bebek maupun skuter/ metic.

 

Kian gencarnya kontes dan kompetisi custom yang telah diselenggarakan setiap tahunnya, baik oleh club motor, dealer, media otomotif, perusahaan swasta Nasional, dsb. dalam sekala regional maupun nasional semakin menunjukkan arah dan kecenderungan dunia custom tanah air. Sayangnya, kesempatan ini belum secara khusus dikaji oleh dunia seni rupa hingga pameran ini diselenggarakan. Potensi custom sebagai bagian dari perkembangan seni rupa kontemporer sesungguhnya sangat besar, bahkan selalu up to date.

 

Kontest dan kompetisi custom yang terbilang gencar bahkan marathon di tiap kota besar di Indonesia setiap tahunnya, acapkali melahirkan kejutan baru, baik dari segi estetika, bodywork hingga detail assesori hand made. Seiring pula kian tumbuhnya bengkel/ workshop custom tanah air dari yang dikelola secara sederhana hingga pengelolaan secara professional, bahkan dengan spesialisasi tertentu.

 

Namun demikian, keterpengaruhan atas genre dan style custom mancanegara masih terasa dominan, barangkali hal ini disebabkan oleh membanjirnya part after market produksi luar negeri, dan belum berkembangnya wacana custom lokal, serta praktik modifikasi yang lebih mengacu kepada bahasa gambar daripada analisis lebih jauh atas karya acuan. Tentu saja keterpengaruhan tidak bisa serta merta dihilangkan, akan tetapi dengan kesadaran mengolah dan melakukan eksplorasi, akan menjelma menjadi pengkayaan.

 

Semoga pameran ini menjadi awal bagi lahirnya wacana seni custom Indonesia.

Advertisements

1967 Triumph Trophy Bobber

Posted in rock&roll on 25/12/2010 by adhythya

Anjing! (dalam bhs sunda  mah ini bisa byk arti… mulai makina hingga pujian. such as a FUCK word in english. dan “anjing” yang ini, artinya udah pasti pujian kali, njing!!)

Ben of Montreal, PQ, Canada, bikin 1967 Triumph Trophy Bobber-nya di modif keren gellaa!!

Ben: “Bobber TR6R 1967, 650cc with matching numbers. This motorcycle is a full and fresh restoration. All has been redone by Lemoyne Moto, PQ”.

Tah kitu ceunah. ngarti teu? hehehe…

nanti liatlah gambar2nya… dari A-Z bener-bener niat modifannya. mesinnya rapi, catnya narsis (iyee, udah tau kalee semua kalo triuph teh dari england!), segalanya dipikirin dan asik. gak ribet. i think, this’s a bobber should be.

silakan menikmati mas brooo..

Specs Custom Bobber:

• Frame year: 1967, stock, Triumph;

• Frame type: bolt-on plunger rear section;

• Rake: none;

• Stretch: a little in rear section;

• Other: powdercoat, matchnumbers;

• Forks: Honda CB750, not extended;

• Front wheel: 19 inch (100/90-19);

• Front tire : Bridgestone Spitfire21;

• Front hub: Honda;

• Front rim: Honda;

• Front brakes : disk;

• Rear wheel: 16 inch (Mt90-16);

• Rear tire : Maxxis whitewall;

• Rear hub: Triumph;

• Rear rim: Harley, powdercoat;

• Rear special : 1/4 inch stainless steel spokes;

• Rear brakes: drum;

• Bars: Drag bar;

• Fenders: Honda front / trailer back;

• Headlight: 6 inch round;

• Taillight: Limp;

• Speedo: Honda CB750;

• Front Pegs: stainless steel forward controls;

• Electrics: owner – minimal;

• Gas Tank: peanut, liner inside;

• Oil Tank: round stainless steel;

• Oil System: owner;

• Seat: Sparkly blue.

Engine specs 1967 TR6R Triumph Bobber:

• Year: 1967;

• Model: 2 cyl;

• Displacement: 650cc;

• Rebuilder: Lemoyne Moto;

• Ignition: Electronic Boyer;

• Alternator : Sparx Hi-output;

• Coil: Spyke starters;

• Lower end: Triumph;

• Balancing: Stock;

• Pistons: Little Over;

• Cases: Stock, epoxy paint inside;

• Heads: Stock (new);

• Cams: Triumph (new);

• Lifters: Triumph (new);

• Carb: Amal single;

• Air cleaner: Round;

• Motor Mount : Choppahead;

• Pipes: TT Pipe w/ baby muffler.

stone’s spoken, “You can’t always get what you want”- king (keith) richard

Posted in rock&roll on 03/12/2010 by adhythya

i guest… 99,9% rock lover know this song. i just write down the lyric,  hope it’ll enlightenment u all.

I saw her today at a reception
A glass of wine in her hand
I knew she would meet her connection
At her feet was her footloose man

No, you can’t always get what you want
You can’t always get what you want
You can’t always get what you want
And if you try sometime you find
You get what you need

I saw her today at the reception
A glass of wine in her hand
I knew she was gonna meet her connection
At her feet was her footloose man

You can’t always get what you want
You can’t always get what you want
You can’t always get what you want
But if you try sometimes you might find
You get what you need

Oh yeah, hey hey hey, oh…

And I went down to the demonstration
To get my fair share of abuse
Singing, “We’re gonna vent our frustration
If we don’t we’re gonna blow a 50-amp fuse”
Sing it to me now…

You can’t always get what you want
You can’t always get what you want
You can’t always get what you want
But if you try sometimes well you just might find
You get what you need
Oh baby, yeah, yeah!

I went down to the Chelsea drugstore
To get your prescription filled
I was standing in line with Mr. Jimmy
And man, did he look pretty ill
We decided that we would have a soda
My favorite flavor, cherry red
I sung my song to Mr. Jimmy
Yeah, and he said one word to me, and that was “dead”
I said to him

You can’t always get what you want, no!
You can’t always get what you want (tell ya baby)
You can’t always get what you want (no)
But if you try sometimes you just might find
You get what you need
Oh yes! Woo!

You get what you need–yeah, oh baby!
Oh yeah!

I saw her today at the reception
In her glass was a bleeding man
She was practiced at the art of deception
Well I could tell by her blood-stained hands

You can’t always get what you want
You can’t always get what you want
You can’t always get what you want
But if you try sometimes you just might find
You just might find
You get what you need

You can’t always get what you want (no, no baby)
You can’t always get what you want
You can’t always get what you want
But if you try sometimes you just might find
You just might find
You get what you need, ah yes…

…………………………………………………………………………………………..

keep rockin’ brothe’….

 

Rolling Stones: the Backstage’s

Posted in kopee-pastee, rock&roll on 24/10/2010 by adhythya

The Big Question

Mick Jagger leans on his stylist Pierre Laroche during their American tour in 1975. They kicked off their tour in New York City by performing “Brown Sugar” on a flatbed driven down Broadway, and their stage props included a giant phallus.

Bianca's Pass

Bianca Jagger displays her backstage pass on her white platform shoe during the 1975 Tour of the Americas. The couple married in 1971 and divorced in 1978. “My marriage ended on my wedding day,” Bianca said later.

Jagger & Annie Liebovitz on Camera

Singer Mick Jagger and photographer Annie Liebovitz pose at Niagara Falls during the Rolling Stones Tour of the Americas in 1975. Perhaps her most famous portrait of a musician, however, was the one she took of John Lennon and Yoko Ono five hours before Lennon was killed.

Back Rub for Bill

Bassist Bill Wyman receives a shoulder massage backstage during the Rolling Stones’ 1975 Tour of the Americas. “I always got great respect as a bass player,” he said.

Keeps Balance

Mick Jagger balances in a backstage corridor in 1975. “Anarchy is the only slight glimmer of hope,” he said.

Keith Gets Made Up

Keith Richards puts on make-up for a show in 1975.“If you’re going to kick authority in the teeth, you might as well use two feet,” he said.

Lovely Couple

Jovial guitarist Ron Wood holds inebriated colleague Keith Richards backstage in 1975. “I never thought I was wasted, but I probably was,” Richards said later.

who's need practice? The rockstars!

Guitarist Ron Wood tunes up before a concert during the Rolling Stones Tour of the Americas, 1975. It was the band’s first tour with Wood, and he had to practice to get up to speed with the band’s songs.

Stands Up

Keith Richards leans against a wall backstage in 1975. “John Lennon … seemed to be in competition with me over drugs, and I never really understood that,” Richards once said.

Studded Stud

Bill Wyman quietly downs a beer backstage in 1975. Wyman wasn’t a big drinker or drug user. Instead, he was “girl mad.”

Here's Custard in Your Eye

Mick Jagger (R), Brian Jones, Bill Wyman, and Charlie Watts enjoy a custard pie fight at the Kensington Gore Hotel, where they held a ”Beggars Banquet” in celebration of the release of their new album of that name in 1968.

Necessary Supplies

The Stones keep a stash of alcohol on hand backstage in 1975. When asked how he keeps fit, Keith Richards replied: “Passing the vodka bottle. And playing the guitar.”

Leibovitz's shot

Photographer Annie Leibovitz gets her camera ready during the Rolling Stones Tour of the Americas in 1975.

Woodstock: The Legendary Lineup

Posted in kopee-pastee, rock&roll on 23/10/2010 by adhythya

Woodstock poster

In the summer of 1969, half a million hopeful, peace-loving young people — ‘lured by music, the country and some strange kind of magic,’ LIFE wrote — came together on a dairy farm in upstate New York, with some of the generation’s best artists providing the soundtrack. Here, experience the festival in the exact order it played out, from beginning (Richie Havens) to end (the guitar hero himself, Jimi Hendrix).

Woodstock's Opening Act: Richie Havens

Aug 15, 1969.
Three days of peace, love, and music begin with folk artist Richie Havens taking the stage as the festival’s first act. He plays covers of the Beatles’ “Hey Jude” and “Strawberry Fields Forever,” as well as his own hits including “Sometimes I Feel Like a Motherless Child.”

John Sebastian

Aug 15, 1969. The spontaneous of the founder of the Lovin’ Spoonful, who left that group a year earlier, is pictured during his unscheduled solo performance on Friday. He dedicated one of his songs, “Younger Generation,” to a newborn baby at the festival.

Rose Simpson, Mike Heron, Christina "Licorice" McKechnie, and Robin Williamson

Aug 15, 1969. Rose Simpson, Mike Heron, Christina “Licorice” McKechnie, and Robin Williamson perform as part of the British group the Incredible String Band.
Tim Hardin
Aug 15, 1969. Folk singer Tim Hardin played just two songs on the festival’s first day; one of them was “If I Were a Carpenter,” which Hardin wrote but was made more famous by Bobby Darin.
Ravi Shankar (right)
Aug 15, 1969. Ravi Shankar (right) plays sitar despite the rain that had begun to fall on Friday. Indian classical music was popular in the counterculture at the time, with bands like the Beatles and the Byrds incorporating it into their music.

Woody Guthrie

Aug 15, 1969. The folk artist and son of Woody Guthrie sings on the first day of the festival.
Joan Baez – Mother of Folk
Aug 15, 1969. Baez, six months pregnant at the time, takes the stage as the last act of Woodstock’s first day. During her set she paid musical tribute to immigrant labor worker Joe Hill, and performed her covers of “We Shall Overcome” and “Swing Low Sweet Chariot.”

Carlos Santana - David Brown

Aug 16, 1969. Carlos Santana trades riffs with bassist David Brown during his namesake band’s performance on Woodstock’s second day. On their eight-song setlist: “Evil Ways.”

Alan "Blind Owl" Wilson

Aug 16, 1969. Getting the blues with Canned Heat’s Alan “Blind Owl” Wilson plays harmonica during the band’s sunset performance on Saturday. A little more than a year later, Wilson was dead of a drug overdose. He was 27.
Canned Heat: Larry Taylor’s Bass Face
Aug 16, 1969. Canned Heat’s Bassist Larry Taylor

janis joplin

Aug 16, 1969. The legendary rock & roll belter dances on stage during her Saturday set with the Kozmic Blues Band. A little more than a year later, Joplin was dead of a drug overdose. She was 27.

Pete Townshend

Aug 17, 1969. The songwriter/guitarist lifts his Gibson SG during the Who’s epic 25-song set. The band had just released the album Tommy and ripped through many tunes from it; perhaps most memorably, they played “See Me, Feel Me” as the sun rose over Woodstock on Sunday morning.

Jefferson Airplane Soars

Aug 17, 1969. Grace Slick leads the band through a rocking Sunday-morning set of 13 songs, including “Somebody to Love” and “White Rabbit.” For more about Slick and her memories of Woodstock, check out her LIFE.com Guest Editor gallery.

Joe Cocker

Aug 17, 1969. Clad in a tie-dyed tee and sweating up a storm, Cocker performs on Sunday afternoon. Before a huge rainstorm halted all stage performances, he belted out his bluesy rearrangement of the Beatles’ “With a Little Help From My Friends.” (Cocker’s recorded version of that song was later used as the theme to the popular ’60s-set TV show The Wonder Years.)

Jimi Hendrix

Aug 18, 1969. Woodstockstrar! Jimi Hendrix fronts his band — going by the new name Gypsy Sun and Rainbows — as the last act on Woodstock’s final day. Hendrix came out of the festival with perhaps the most electrifying performance: his genius solo guitar interpretation of “The Star-Spangled Banner.” A little more than a year later, Hendrix was dead. He was 27.
With all respect to lifemagz: http://www.life.com

blogs-riding part1

Posted in jurnal, rock&roll on 17/10/2010 by adhythya

today is a link’s day.

after several months i didn’t write anything, today i just wanna share my blogs-riding. the list are really good blog, good site, so much inspiration. the number doesn’t mean anything except number. so, lets (blog) ride, dude!

  1. http://triumpher.exblog.jp –> owned by kaz. livin in japan on britstyle. here you’ll find good jap’s blog, unfortunately in japs language, like what i found: http://blog.livedoor.jp/kraftytokyo133/ –>nice japs clothing blog. or this one: http://www.kustomfurniture.com/ –> nice work for your custom bikes/car.
  2. http://greasykulture.blogspot.com –> you know the gkm, this is a they blog.
  3. http://www.bikeexif.com –> best (in my opinion) custom motorcycle blog ever
  4. http://irishrichcustomcycles.blogspot.com –> owner of Shamrock Fabrication, the living proof of biker never dies! 🙂
  5. http://www.heiwa-mc.jp –> uuugh, i love their work!  speechlessssss…..
  6. http://theselvedgeyard.wordpress.com –> if u love vintages, then you will… i guarantee, you will love this blog
  7. http://dicemagazine.blogspot.com/ –> yes, it’s a dice-magz’s blog. hehehe…
  8. http://albertovenezia.blogspot.com/ –>the sinner’s blog. i think i found this blog linked on kaz’s.
  9. http://www.23bricksforever.blogspot.com/ –> it’s a happening blog with good linked there.
  10. http://www.xs650chopper.com/ –> for those who crazy about XS650cc.
  11. http://www.650motorcycles.com/ –> and this one too.
  12. http://www.vintagebike.co.uk/ –>you can see, can watch, you can hear almost all the vintage motorcycle
  13. http://www.scooterlounge.com/ –> for those who loves vespa & lambretta, it could listed on your link too.
  14. http://www.autogallery.org.ru/gal.htm –> one of the oldies site (hehehe) about vintage vehicle
  15. http://classic-motorcycle.org/news.php –> if you wanna know about vintage motorcycle in indonesia, you are welcome.
  16. http://thekneeslider.com/ –> everything on 2 wheel
  17. http://americanlovemachine.com/ –> wow! kustom klothing mostly
  18. http://www.negro-mate.com/ –> nice grafis for your hodrod vehicle
  19. http://www.ace-cafe-london.com/default.aspx –> someday i will ride go there
  20. http://slicendicekustoms.blogspot.com –> good customize

all links already listed the blog on my blogroll.

continue to blogs-riding part2

Top 10 Notorious American Biker Gangs

Posted in history, kopee-pastee, rock&roll on 23/02/2010 by adhythya
source: http://listverse.com, http://en.wikipedia.org

Beda di luar, beda di Indonesia. Kalo di luar negeri nih, yaa… kebanyakan orang menganggap, yang namanya bikers tuh kumuh! Ya gayanya, ya hidupnya. Dengan jaket kulitnya, jenggot dan kumis berantakan juga kotor! Yaiya lah…. namanya juga naek motor. Kena angin, kena debu, asep knalpot…asal jangan aja kena aids. Dan pastinya, image tukang bikin onar, penjahat, bajingan… setia banget nempel di kehidupannya. Padahal, di luar negeri juga nih, 99% bikers tuh gak kayak gitu.  Mereka kerja baek-baek dan pekerja keras. Motor cuma hobi! Biker yang di maksud di sini adalah pengendara motor CC gede, tentunya! Semodel Harley tea-lah!

Nah, di Indonesia… kebanyakan orang emang tau, mereka yang punya Harley, terutama Harley2 tahun muda, emang orang2 kaya. Bener sih, banyak juga yang beranggapan mereka, si biker, bajingan juga. Tapi bukan bajingan yang bajingan. Di bilang “bajingan” karena ada beberapa oknum yang suka jadi mendadak gahar kalo lagi bermotor. Apalagi kalo bermotornya rame2. Itu nyali si oknum mendadak segede gunung!

Btw, soal nyali yang mendadak gede mah, emang (gak tau kenapa, ya??) udah jadi tabiat orang Indonesia! BERANI karena BANYAK. Gak yang 1000cc-an aja, yang 100cc, 125cc… ah, pokonya mah asal banyak, baru berani! Gak semua juga sih! Pisss…. 🙂

The 1%-ers

Balik lagi ke yang di luar negeri.
Sebenernya emang cuma sedikit bgt yang bermotor gede itu yang badung kebangetan. Saking sedikitnya, yaaa… kira2 cuma paling banyak nih, ya.. 1%.
Ya, cuma 1% biker yang bener2 bajingan, bener kriminal, bener2 edan, bener dekil, bener2 gila… dan mungkin emang cuma 1% ini lah yang bener2 BIKERS.
Terlepas dari segala bentuk kejahatannya, kita musti akui mereka yang 1% inilah yang bener2 nerapin WE’RE BROTHERHOOD. Bahkan, diakui atau enggak, INSIGHT untuk jadi 1%-er selalu ada di hati para (yang katanya) bikers.

SALUTE BROTHA!

10. Vagos MC

vago-logo

vagos mc - 1%

The Vagos Motorcycle Club, dibentuk di San Bernardino, CA, sekitar tahun 1960’s. Sekarang The Vagos memiliki sekitar 24 chapters di bagian barat Amrik dan 3 di Mexico.

3129204271 A10E782A8F
the vagos

The Vagos masuk daftar kejaran FBI dan ATF karena bandar narkoba, pembunuhan, pencucian uang juga kejahatan bersenjata. Bulan Maret 2006, pihak berwajib nangkep sekitar 25 anggotanya, dan menjadi sejarah penangkapan terbesar dalam sejarah California Selatan.

Established: 1965 in San Bernardino, California, United States – Years active: 1965-present – Territory: Southwestern United States and Northern Mexico – Ethnicity: Hispanic and White – Membership: 300 full-patch members, many more prospects and hang-arounds – Allies: Bandidos, Mongols, Sureños and the Mexican Mafia – Rivals: Brother Speed, Free Souls, Hells Angels and Norteños

bacaan:

http://nwhog.wordpress.com/2008/08/08/vagos-mc-meeting-in-grants-pass/

http://whiteprisongangs.blogspot.com/2009/06/vagos-motorcycle-club.html

http://www.thenation.com/

9.  Free Souls

Fscolor

Dibentuk akhir era 60-an di Oregon. Patchnya mereka ngambil simbol ANKH, Mesir yang dipasang ditengah2 roda. Seluruh chapter-nya berada di Oregon, dan hanya 1 yangn di luar, yaitu di Vancouver, Kanada.

Mei 2007, tiga anggota The Free Souls Motorcycle Club ditangkap dengan dakwaan berlapis (anjeeeng, siga kasus KPK-POLRI). Bukti nyata sih, Free Soul emang tenar sebagai BD, jual beli senpi dan curanmor.

Established: 1968 in Eugene, Oregon, United States – Years active: 1968-present – Membership: 100 full-patch members, many more prospects and hang-arounds – Allies: Brother Speed – Rivals: Vagos

bahan: http://www.free-souls-motorcycle-club.com/

8. Bandidos

Didirikan di San Leon, Texas, tahun 1966 oleh beberapa veteran perang Vietnam. Patch Bandidos terlihat “lucu”, gambar kartun seorang Mexico pake sombrero dengan machete di tangan kiri dan pistol di tangan kanan. Tapi, “lucunya” patch mereka, bikin bergidik orang yang melihatnya.  Sekitar 90 chapters-nya tersebar di seluruh Amerika Serikat, belum termasuk chapter2-nya di Asia, Jerman dan Australia.

Sargentodearmas

Bandidos emang punya sejarah panjang yang edan pokonya mah, brutal, aktivitas, dan kriminal. Sebutin aja apa yang jahat, Bandidos pasti pernah ngelakuin! Edan pan? Nah, yang sempet jadi bahan perbincangan, kejadian tahun 2006, waktu pembunuhan seorang petinju terkenal, yang ternyata anggota rival beratnya, Hell’s Angels MC.

Established: 1966 in San Leon, Texas, United States  – Founder:Donald Eugene Chambers – Years active: 1966-present – Territory: Chapters in Australia, Belgium, Canada, Costa Rica, Denmark, England, Finland, France, Germany, Italy, Luxembourg, Malaysia, Norway, Singapore, Sweden, Thailand and the United StatesEthnicity: Hispanic and White – Membership: 2500 full-patch members – Allies: Mongols, Outlaws, Pagans, Vagos and Black CobrasRivals: Comancheros, Hells Angels, Sons of Silence and Original Gangsters

bahan: http://en.wikipedia.org/wiki/Bandidos, http://www.bandidosmc.dk/

7. Highwaymen

The Highwaymen MC, 1%-er yang dibentuk di Detroit, MI, 1954. Chapter-nys tersebar se-Amrik, spanjang Michigan terus hingga Norwegia dan Inggris. Moto mereka,“Highwaymen Forever, Forever Highwaymen” diadaptasi oleh semua bikers 1%-es di seluruh dunia.

Highwaymen-Patch

Untuk soal anti kemapanan, yaaa… 1%-ers gitu lho. Catatan kriminl, idem.

Emblems

Highwaymen Forever, Forever Highwaymen

6. Warlocks

Satu hari di February 1967, di atas Aircraft Carrier USS Shangri-La, 13 awak kapalnya bersatu buat bikin satu brotherhood, Warlock MC. Diprakarsai oleh brother Grub, yang sampe sekarang masih aktif wara-wiri pake motornya.

“God is Good, but Grub is Great!”

Maka jadilan. di Philadelphia, 1967, dan tumbuh semakin nesar dengan anggota para veteran perang Vietnam, hanya kulit putih. Tersebar dari mulai Pennsylvania, terus sepanjang northeastern United States, beberapa chapter di southeast United States, juga chapter2 luar negeri sperti di Jerman, Inggris.


va

WE LIVE THE LIFE WE LOVE & LOVE THE LIFE WE LIVE

Setahun yang lalu, 2008, Tommy Zaroff, President of the Bucks County, PA chapter, ditangkap karena membawa 10 pounds  methamphetamine. Yaa, tipika 1%^er amerika sana emang gitu. kriminal! Tapi…hey, we’re who we’re!

Picture 1-118

bahan: http://www.warlocksmc.net

5. Sons of Silence

Photoid12570

The Sons of Silence juga salah satu dari “1%er” gang motor, dibikin di Niwot, Colorado tahun 1966 dan termasuk di dalam salah satu episode Gangland on The History Channel. The Sons of Silence terus berkembang, bikin chapter2 se-amerika, lebih banyak sih di wilayah timur, dan beberapa chapter di Jerman.

Ini dia motto paling gw suka, yang diadopsi oleh The Sons of Silence dari bahasa latin “Donec Mors Non Seperat”, yang artinya “Until Death Separates Us”. Ini gang pake patch bergambar American Eagle, sama kyk bir Budweiser dengan superimposed di atas huruf A.

October 1999, 37 anggota Sons of Silence ditahan karena perdagangan narkoba, senjata ilegal dalam suatu penyergapan gede2an oelh ATF.

4. Outlaws

410W

The Outlaw Motorcycle Club, salah satu gang motor paling gelo dan paling kolot di amerika. Dimulai tahun 1935, edan tua bgt ya… di bar Matilda’s dijalan Route 66 , tau dong, route 66 sekarang jadi tenarnya karena apa… daerah McCook, IL. Pacth-nya bergambar tengkorak (yang tidak nyeremin, hehehe) disilang 2 piston (gegantinya tulang) dan 2 pestol dibawahnya! Dengan umur club yang udah lebih dari 70, gak heran chapter-nya tersebar seantero USA, malah udah kokoh pula di beberapa negara kayak: Australia, Asia, Eropa dan Amerika Selatan dan Utara (kanada).

Harry Joseph Bowman, The World Leader of The American Outlaw Association (A.O.A.), juga ex presidente  international  of The OutlawsMotorcycle Club yang membawahi lebih dari 30 chapters di U.S. dan 20 chapters di 4 negara, sampe i hun 1999. Bisnis harom-nya buanyak banget, dan jadi panutan bisnis2 para gang motor lainnya, mulai narkotik, senpi, pelacuran, pemerasan dll.

3. Pagans

Paganscol

The Pagans dibuat di  Maryland tahun 1959 dan tahun 1965 bener-benr nyebar!!. Patch-nya bener2 nyiriin what’s pagan stand for…. plus, rasis bgt, dengan pake logo nazi di bagian depan. Tiap anggota pasti bertato ARGO (Ar Go Fuck Yourself) dan NUNYA (Nun’Ya Fuckin’ Business). Dengan daerah kekuasaan di pantai timur amerika. ates.

Musuh gerot Hell’s Angels Motorcycle Club ini, juga tenar sebagai perampok, pengedar, pembunuh,pemyelundup, dll.

Sedikit banyak kisah brutal perang gang antara Pagan vs Hell Angel’s,, misal di February 2002, 73 anak Pagans ditahan di Lomng Island gara2 ribut ama the Angel’s. Tahun 2005 kejadian tambah parah, Vice-President of the Philadelphia Chapter of The Hell’s Angels, ditembak mati oleh salah satu Pagans! Damn… the war’ll never ending!

2. Mongols

Mongols

The Mongols, atau dikenal dengan Mongol Nation atau Mongol Brotherhood, dibentuk tahun 1969 di Montebello, California dari Hispanic bikers yang ditolak masuk  Hell’s Angels MC karena ras-nya! Sekarang, Mongol chapters banyak di wilayah barat United States, tapi juga buka di Kanada, Mexico danItaly.

2008, ada 4 agen ATF menyusup di Mongols MC dan ngebuka semua kegiatan ilegal ini club. Hasilnya, 38 ditangkap, termasuk president Mongol MC, Ruben “Doc” Cavazos. Bukan cuma itu… mulai sejak itu, semua yang berhubungan dgn Mongol MC dilarang dipake dimuka umum!! edan…. padahal itu di amerika lho! Negara PENUH KEBEBASAN…. kebayang pan gilannya ini MC. Jadi kayak PKI di Indonesia jaman Suharto.

1. Hell’s Angels MC

6Af6F70Daed83Cabf515D3Af05Ca20B6

Dan inilah satu-satunya MC yang paling ngetop semuka bumi!! Hell’s Angels! Didirikan sekitar 1940-1950 di  California, sekarang udah nyebar kayak virus ke seluruh dunia. Di amerika, rusia, eropa, asia, australia…. tinggal afrika aja yang belum! tau tuh turki jadi di baptis atau belum.  Patch-nya, “dead head”, diambil dari logo 85th Fighter Squadron and the 552nd Medium Bomber Squadron.

Dengan segala kerjaan ilegal (dan mitosnya) yang sang edan… yang paling jadi sorotan adalah kejadian di Altamont Free Concert di Altamont Speedway, December 1969 waktu Hell’s Angels jadi bodyguardnya The Rolling Stones dan rusuh dengan penonton, 1 penonton tewas disana.

Dan pastinya kejadian perang gang di Laughlin, Nevada di Harrah’s Casino dan Hotel, melawan Mongols MC. Hasilnya, 1 mongols mati, 2 angels luka tembak parah.

————————————————————————

Tuh-kan… begitu tuh kalo namanya 1%-ers. Yaaa, gak semuanya kayak gitu, tapi mau gak mau semuanya harus siap back brother-nya kalo ada apa2. Jadinya, mau gak mau harus begitu!

Beberapa MC tenar di atas (kabarnya) mulai melabarkan sayapnya di Indonesia. Ada yang bilang BOHONG, ada juga yang diem2 malah PENGEN. hehehe… Beberapa lebih bijak, menurut gw, katanya gini, “All brothers are welcome…. but this is our road!”

PS. baru nemu di askmen.com… 10 notorius bikers gang of the worlds!! tunggu ye…